Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

Kamis, 04 Agustus 2011

Kamis, 04 Agustus 2011

FOTO-FOTO KEGIATAN

Aksi Solidaritas Palestina

(Akh Agus: Ayo teman-teman semangat...! Allahu Akbar)

Peserta Akhwat Kampanye Partai PAS 2009

Tim Nasyid saat kampanye Pemilwa kampus UIN Sunan kalijaga 2009

Holiday Camp di Deles, Klaten

Rabu, 13 Juli 2011

Rabu, 13 Juli 2011

Agar Gaul Banyak Ngaji


Dalam Ramadhan, orang yang berpuasa akan cukup aktif dalam bergaul. Dari gaul dengan manusia hingga gaul dengan al-Qur’ an. Bergaul dengan manusia bisa dengan acara buka puasa bersama, salat taraweh berjamaah, tadarus bersama, bertukar makanan bukaan dan lain-lain. Namun, Pergaulan tidak mesti harus ada komunikasi aktif. Karena hakekat pergaulan hanyalah untuk menambah wawasan dan pengalaman dari selain diri kita. Dan sebaik-baik tempat mencari wawasan dan pengalaman adalah dengan membaca al-Qur’an.

Al-Qur’ an bukan saja sebagai kitab suci yang berisi pedoman hidup dan dasar setiap langkah hidup. Al-Qur’ an juga bisa menjadi sumber inspirasi. Karena dalam al-Qur’ an bukan sekedar mengatur hubungan manusia dengan Rabb-nya, tetapi juga mengatur hubungan manusia dengan manusia dan bahkan dengan alam sekitarnya. Pendeknya, al-Qur’ an mengatur dan memimpin semua lini kehidupan manusia demi kebahagian hidup di dunia dan di akhirat.

Benarkah al-Qur’an sumber inspirasi? Tepat sekali. Al-Qur’ an sumber inspirasi bagi siapa yang ingin menggalinya. Karena yang memvonis demikian adalah Allah Swt. Vonis itu disitir di surat al-An’aam ayat 38,”...Tiadalah Kami alpakan sesuatu apa pun di dalam al-Qur’ an...”.
Inilah indahnya al-Qur’ an. Jika kita mau menangkap informasi yang diberikannya dengan cakrawala berfikir yang luas, maka tak ayal beragam inspirasi bisa di dapat dari al-Qur’ an. Dengan inspiratifnya, al-Qur’ an sering disebut dengan ajaran yang bersifat universal dan abadi.

Di antara contoh tokoh yang menggunakan al-Qur’ an sebagai sumber inspirasi adalah Habiburrahman El-Shirazy. Pengarang buku “Ayat-Ayat Cinta” itu kerap menjadikan al-Qur’ an sebagai sumber inspirasinya dalam menulis novel dan cerpen. Bahkan, buku “Ayat-Ayat Cinta” yang menjadi best seller juga terinspirasi dari al-Qur’ an. Maka tak salah jika novel-novelnya dikenal dengan novelet pembangun jiwa. Karena sumbernya dari al-Qur’an dan al-Qur’an sendiri befungsi membangun jiwa yang mati dan membawa cahaya terang benderang untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan.

Nah, mari kita jadi al-Qur’an sebagai sumber rujukan kita. Sungguh tepat sabda Rasulullah yang berbunyi, ”Kutinggalkan untuk kamu dua perkara, tidaklah kamu akan tersesat selama-lamanya, selama kamu masih berpegang kepada keduanya, yaitu Kitabullah (al-Qur’an) dan Sunnah Rasul-Nya”. Jika jaminan hidup tanpa sesat saja sudah ada, apalagi jaminan hidup untuk bahagia selamanya sudah pasti lengkap tertera di dalam al-Qur’ an. Apapun profesi yang ingin kita jalani. Tips-tipsnya semuanya ada di dalam al-Qur’an.

Ingin jadi pengusaha yang sukses. Al-Qur’an cukup konkrit menjelaskannya. Menurut al-Qur’an, untuk menjadi pebisnis sukses kita harus memiliki lima sikap: 1) Berusaha dengan sungguh-sungguh (Ar-Ra’d : 11), 2) Tujuan usaha semata-mata hanya untuk kebahagian di dunia dan di akhirat (al-Qashash: 77), 3) Harus mau bertawakkal dan bersabar (at-Taghaabun: 13), 4) Jangan mudah berputus asa dan tidak semua cita-cita manusia akan tercapai (an-Najm: 24-25), dan 5) Selalu bersyukur dengan rezeki yang diberikan Allah (Ibrahim: 34)

Karena itu, jika ingin meraih apa yang kita cita-cita segeralah bersahabat dengan al-Qur’an. Kita tidak akan pernah mendapatkan kekecawaan. Al-Qur’an sebaik-baik teman bagi manusia. Bahkan Rasulullah Saw mengatakan, “al-Qur’ an mengandung yang batin dan yang lahir. Lahirnya menjadi hukum dan batinnya menjadi ilmu. Lahirnya sangat indah dan batinnya sangat mendalam. Ia memiliki had-had (batas-batas) dan di dalam batasnya ada batasnya lagi. Keajaiban-keajaibannya tidak akan pernah habis. Misteri-misterinya tidak akan pernah basi. Di dalamnya mengandung pelita petunjuk. Mercusuar hikmah, dalil pada makrifat bagi yang mengetahui ‘sifat’, perhatikanlah dengan jelas sehingga kalian dapat menyampaikan pandangannya atas “sifat”, sehingga menyelamatkan dari ‘kebinasaan’ dan melepaskan dari ‘bahaya yang menjerat’” (al-Kafi, juz 2, hal 238)

Apakah masih tetap akan jarang kita membaca al-Qur’an, setelah konkritnya spirit kesuksesan ada di dalamnya? Percayalah, hanya al-Qur’an sebaik-baik teman bergaul.

Rabu, 29 Juni 2011

Rabu, 29 Juni 2011

Isra’ Mi’raj: Inspirasi Mengintegrasikan Sains dalam Aqidah dan Ibadah

Oleh:Thomas Djamaluddin 


Ilustrasi (wordpress.com/tdjamaluddin)
dakwatuna.com - Isra’ mi’raj bukanlah kisah perjalanan antariksa. Aspek astronomis sama sekali tidak ada dalam kajian Isra’ mi’raj. Namun, Isra’ mi’raj mengusik keingintahuan akal manusia untuk mencari penjelasan ilmu. Aspek aqidah dan ibadah berintegrasi dengan aspek ilmiah dalam membahas Isra’ mi’raj. Inspirasi saintifik Isra’ Mi’raj mendorong kita untuk berfikir mengintegrasikan sains dalam aqidah dan ibadah.
Mari kita mendudukkan masalah Isra’ mi’raj sebagai mana adanya yang diceritakan di dalam Al-Qur’an dan hadits-hadits shahih. Kemudian sekilas kita ulas kesalahpahaman yang sering terjadi dalam mengaitkan Isra’ mi’raj dengan kajian astronomi. Hal yang juga penting dalam mengambil hikmah peringatan Isra’ mi’raj adalah menggali inspirasi saintifik yang mengintegrasikan sains dalam memperkuat aqidah dan menyempurnakan ibadah.
Kisah dalam Al-Qur’an dan Hadits
Di dalam QS. Al-Isra’:1 Allah menjelaskan tentang Isra’:  “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad SAW) pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
Dan tentang mi’raj Allah menjelaskan dalam QS. An-Najm:13-18:  “Dan sesungguhnya dia (Nabi Muhammad SAW) telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, di Sidratul Muntaha. Di dekat (Sidratul Muntaha) ada surga tempat tinggal. (Dia melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh suatu selubung. Penglihatannya tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.”
Sidratul muntaha secara harfiah berarti ‘tumbuhan sidrah yang tak terlampaui’, suatu perlambang batas yang tak seorang manusia atau makhluk lainnya bisa mengetahui lebih jauh lagi. Hanya Allah yang tahu hal-hal yang lebih jauh dari batas itu. Sedikit sekali penjelasan dalam Al-Qur’an dan hadits yang menerangkan apa, di mana, dan bagaimana sidratul muntaha itu.
Kejadian-kejadian sekitar Isra’ dan mi’raj dijelaskan di dalam hadits-hadits nabi. Dari hadits-hadits yang shahih, didapati rangkaian kisah-kisah berikut. Suatu hari malaikat Jibril datang dan membawa Nabi, lalu dibedahnya dada Nabi dan dibersihkannya hatinya, diisinya dengan iman dan hikmah.
Kemudian didatangkan Buraq, ‘binatang’ berwarna putih yang langkahnya sejauh pandangan mata. Dengan Buraq itu Nabi melakukan Isra’ dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsha (Baitul Maqdis) di Palestina. Nabi SAW shalat dua rakaat di Baitul Maqdis, lalu dibawakan oleh Jibril segelas khamr (minuman keras) dan segelas susu; Nabi SAW memilih susu. Kata malaikat Jibril, “Engkau dalam kesucian, sekiranya kau pilih khamr, sesatlah umat engkau.”
Dengan Buraq pula Nabi SAW melanjutkan perjalanan memasuki langit dunia. Di sana dijumpainya Nabi Adam yang di kanannya berjejer para ruh ahli surga dan di kirinya para ruh ahli neraka. Perjalanan diteruskan ke langit ke dua sampai ke tujuh. Di langit ke dua dijumpainya Nabi Isa dan Nabi Yahya. Di langit ke tiga ada Nabi Yusuf. Nabi Idris dijumpai di langit ke empat. Lalu Nabi SAW bertemu dengan Nabi Harun di langit ke lima, Nabi Musa di langit ke enam, dan Nabi Ibrahim di langit ke tujuh. Di langit ke tujuh dilihatnya Baitul Ma’mur, tempat 70.000 malaikat shalat tiap harinya, setiap malaikat hanya sekali memasukinya dan tak akan pernah masuk lagi.
Perjalanan dilanjutkan ke Sidratul Muntaha. Dari Sidratul Muntaha didengarnya kalam-kalam (‘pena’). Dari sidratul muntaha dilihatnya pula empat sungai, dua sungai non-fisik (bathin) di surga, dua sungai fisik (dhahir) di dunia:  sungai Efrat dan sungai Nil. Lalu Jibril membawa tiga gelas berisi khamr, susu, dan madu, dipilihnya susu. Jibril pun berkomentar, “Itulah (perlambang) fitrah (kesucian) engkau dan umat engkau.” Jibril mengajak Nabi melihat surga yang indah. Inilah yang dijelaskan pula dalam Al-Qur’an surat An-Najm. Di Sidratul Muntaha itu pula Nabi melihat wujud Jibril yang sebenarnya.
Puncak dari perjalanan itu adalah diterimanya perintah shalat wajib. Mulanya diwajibkan shalat lima puluh kali sehari-semalam. Atas saran Nabi Musa, Nabi SAW meminta keringanan dan diberinya pengurangan sepuluh-sepuluh setiap meminta. Akhirnya diwajibkan lima kali sehari semalam. Nabi enggan meminta keringanan lagi, “Aku telah meminta keringanan kepada Tuhanku, kini saya rela dan menyerah.” Maka Allah berfirman, “Itulah fardhu-Ku dan Aku telah meringankannya atas hamba-Ku.”
Urutan kejadian sejak melihat Baitul Ma’mur sampai menerima perintah shalat tidak sama dalam beberapa hadits, mungkin menunjukkan kejadian-kejadian itu serempak dialami Nabi. Dalam kisah itu, hal yang fisik (zhahir) dan non-fisik (bathin) bersatu dan perlambang pun terdapat di dalamnya. Nabi SAW yang pergi dengan jasad fisik hingga bisa shalat di Masjidil Aqsha dan memilih susu yang ditawarkan Jibril, tetapi mengalami hal-hal non-fisik, seperti pertemuan dengan para Nabi yang telah wafat jauh sebelum kelahiran Nabi SAW dan pergi sampai ke surga. Juga ditunjukkan dua sungai non-fisik di surga dan dua sungai fisik di dunia. Dijelaskannya makna perlambang pemilihan susu oleh Nabi Muhammad SAW, dan menolak khamr atau madu. Ini benar-benar ujian keimanan, bagi orang mukmin semua kejadian itu benar diyakini terjadinya. Allah Maha Kuasa atas segalanya.
“Dan (ingatlah), ketika Kami wahyukan kepadamu: “Sesungguhnya (ilmu) Tuhanmu meliputi segala manusia”. Dan Kami tidak menjadikan pemandangan yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi  manusia….” (QS. 17:60).
“Ketika orang-orang Quraisy tak mempercayai aku (kata Nabi SAW), aku berdiri di Hijr (menjawab berbagai pertanyaan mereka). Lalu Allah menampakkan kepada saya Baitul Maqdis, aku dapatkan apa yang aku inginkan dan aku jelaskan kepada mereka tanda-tandanya, aku memperhatikannya….” (HR. Bukhari, Muslim, dan lainnya).
Hakikat Tujuh Langit
Peristiwa Isra’ mi’raj yang menyebut-nyebut tujuh langit mau tak mau mengusik keingintahuan kita akan hakikat langit, khususnya berkaitan dengan tujuh langit yang juga sering disebut-sebut dalam Al-Qur’an.  Bila kita dengar kata langit, yang terbayang adalah kubah biru yang melingkupi bumi kita. Benarkah yang dimaksud langit itu lapisan biru di atas sana dan berlapis-lapis sebanyak tujuh lapisan?
Warna biru hanyalah semu, yang dihasilkan dari hamburan cahaya biru dari matahari oleh partikel-partikel atmosfir. Langit (samaa’ atau samawat) berarti segala yang ada di atas kita, yang berarti pula angkasa luar, yang berisi galaksi, bintang, planet, batuan, debu dan gas yang bertebaran. Dan lapisan-lapisan yang melukiskan tempat kedudukan benda-benda langit sama sekali tidak ada.
Bilangan ‘tujuh’ sendiri dalam beberapa hal di Al-Qur’an  tidak  selalu menyatakan  hitungan  eksak  dalam  sistem desimal. Di dalam Al-Qur’an ungkapan ‘tujuh’ atau ‘tujuh  puluh’ sering mengacu  pada jumlah yang tak terhitung. Misalnya, di dalam Q.S. Al-Baqarah:261 Allah menjanjikan: “Siapa  yang  menafkahkan  hartanya di  jalan  Allah  ibarat  menanam  sebiji benih yang menumbuhkan tujuh tangkai  yang masing-masingnya     berbuah    seratus    butir. Allah  melipatgandakan pahala orang-orang yang dikehendakinya….” Juga di dalam Q.S. Luqman:27: “Jika seandainya semua pohon di bumi dijadikan sebagai  pena dan  lautan  menjadi tintanya dan  ditambahkan tujuh lautan lagi, maka tak akan habis Kalimat Allah….” Jadi  ‘tujuh langit’ lebih mengena bila  difahamkan  sebagai  tatanan  benda-benda langit yang tak terhitung banyaknya, bukan sebagai lapisan-lapisan langit.
Lalu, apa hakikatnya langit dunia, langit ke dua, langit ke tiga, … sampai langit ke tujuh dalam kisah Isra’ mi’raj?  Mungkin ada orang mengada-ada penafsiran, mengaitkan dengan astronomi. Para penafsir dulu ada yang berpendapat bulan di langit pertama,  matahari di langit ke empat, dan planet-planet lain di lapisan lainnya. Kini ada sembilan planet yang sudah diketahui, lebih dari tujuh. Tetapi, mungkin masih ada orang yang ingin mereka-reka. Kebetulan, dari jumlah planet yang sampai saat ini kita ketahui, dua planet dekat matahari (Merkurius dan Venus), tujuh lainnya –termasuk bumi– mengorbit jauh dari matahari.
Pengertian langit dalam kisah Isra’ mi’raj bukanlah  pengertian langit secara fisik. Karena, fenomena yang diceritakan Nabi pun bukan fenomena fisik, seperti perjumpaan dengan para Nabi yang hakikatnya telah wafat. Langit dan Sidratul Muntaha dalam kisah Isra’ mi’raj adalah alam ghaib yang tak bisa kita ketahui hakikatnya dengan keterbatasan ilmu manusia. Hanya Rasulullah SAW yang berkesempatan mengetahuinya. Isra’ mi’raj adalah mukjizat yang hanya diberikan Allah kepada Nabi Muhammad SAW.
Perjalanan Keluar Dimensi Ruang Waktu
Isra’ mi’raj jelas bukan perjalanan seperti dengan pesawat terbang antarnegara dari Mekkah ke Palestina dan penerbangan antariksa dari Masjidil Aqsha ke langit ke tujuh lalu ke Sidratul Muntaha. Isra’ Mi’raj adalah perjalanan keluar dari dimensi ruang waktu. Tentang caranya, iptek tidak dapat menjelaskan. Tetapi bahwa Rasulullah SAW melakukan perjalanan keluar ruang waktu, dan bukan dalam keadaan mimpi, adalah logika yang bisa menjelaskan beberapa kejadian yang diceritakan dalam hadits shahih. Penjelasan perjalanan keluar dimensi ruang waktu setidaknya untuk memperkuat keimanan bahwa itu sesuatu yang lazim ditinjau dari segi sains, tanpa harus mempertentangkannya dan menganggapnya sebagai suatu kisah yang hanya dapat dipercaya saja dengan iman.
Kita hidup di alam yang di batas oleh dimensi ruang-waktu (tiga dimensi ruang –mudahnya kita sebut panjang, lebar, dan tinggi –, serta satu dimensi waktu ). Sehingga kita selalu memikirkan soal jarak dan waktu. Dalam kisah Isra’ mi’raj, Rasulullah bersama Jibril dengan wahana “Buraq” keluar dari dimensi ruang, sehingga dengan sekejap sudah berada di Masjidil Aqsha. Rasul bukan bermimpi karena dapat menjelaskan secara detail tentang masjid Aqsha dan tentang kafilah yang masih dalam perjalanan. Rasul juga keluar dari dimensi waktu sehingga dapat menembus masa lalu dengan menemui beberapa Nabi. Di langit pertama (langit dunia) sampai langit tujuh berturut-turut bertemu (1) Nabi Adam, (2) Nabi Isa dan Nabi Yahya, (3) Nabi Yusuf, (4) Nabi Idris, (5) Nabi Harun, (6) Nabi Musa, dan (7) Nabi Ibrahim. Rasulullah SAW juga ditunjukkan surga dan neraka, suatu alam yang mungkin berada di masa depan, mungkin juga sudah ada masa sekarang sampai setelah kiamat nanti.
Sekadar analogi sederhana perjalanan keluar dimensi ruang waktu adalah seperti kita pergi ke alam lain yang dimensinya lebih besar. Sekadar ilustrasi, dimensi 1 adalah garis, dimensi 2 adalah bidang, dimensi 3 adalah ruang. Alam dua dimensi (bidang) dengan mudah menggambarkan alam satu dimensi (garis). Demikian juga alam tiga dimensi (ruang) dengan mudah menggambarkan alam dua dimensi (bidang). Tetapi dimensi rendah tidak akan sempurna menggambarkan dimensi yang lebih tinggi. Kotak berdimensi tiga tidak tampak sempurna bila digambarkan di bidang yang berdimensi dua.
Sekarang bayangkan ada alam berdimensi dua  (bidang) berbentuk U. Makhluk di alam “U” itu bila akan berjalan dari ujung satu ke ujung lainnya perlu menempuh jarak jauh. Kita yang berada di alam yang berdimensi lebih tinggi dengan mudah memindahkannya dari satu ujung ke ujung lainnya dengan mengangkat makhluk itu keluar dari dimensi dua, tanpa perlu berkeliling menyusuri lengkungan “U”.
Alam malaikat (juga jin) bisa jadi berdimensi lebih tinggi dari dimensi ruang waktu, sehingga bagi mereka tidak ada lagi masalah jarak dan waktu. Karena itu mereka bisa melihat kita, tetapi kita tidak bisa melihat mereka. Ibaratnya dimensi dua tidak dapat menggambarkan dimensi tiga, tetapi sebaliknya dimensi tiga mudah saja menggambarkan dimensi dua. Bukankah isyarat di dalam Al-Quran dan Hadits juga menunjukkan hal itu. Malaikat dan jin tidak diberikan batas waktu umur, sehingga seolah tidak ada kematian bagi mereka. Mereka pun bisa berada di berbagai tempat karena tak di batas oleh ruang.
Rasulullah bersama Jibril diajak ke dimensi malaikat, sehingga Rasulullah dapat melihat Jibril  dalam bentuk aslinya (baca QS 53:13-18). Rasul pun dengan mudah pindah dari suatu tempat ke tempat lainnya, tanpa terikat ruang dan waktu. Langit dalam konteks Isra’ Mi’raj pun bukanlah langit fisik berupa planet atau bintang, tetapi suatu dimensi tinggi. Langit memang bermakna sesuatu di atas kita, dalam arti fisik maupun non-fisik.
Sains Terintegrasi dengan Aqidah dan Ibadah
Bagaimanapun ilmu manusia tak mungkin bisa menjabarkan hakikat perjalanan Isra’ mi’raj. Allah hanya memberikan ilmu kepada manusia sedikit sekali (QS. Al-Isra: 85). Hanya dengan iman kita mempercayai bahwa Isra’ mi’raj benar-benar terjadi dan dilakukan oleh Rasulullah SAW. Rupanya, begitulah rencana Allah menguji keimanan hamba-hamba-Nya (QS. Al-Isra:60) dan menyampaikan perintah shalat wajib secara langsung kepada Rasulullah SAW.
“…dan (ingatlah), ketika Kami wahyukan kepadamu: ‘Sesungguhnya (ilmu) Tuhanmu meliputi segala manusia’ dan Kami tidak menjadikan penglihatan (saat Isra’ mi’raj) yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia …”
Pemahaman dengan pendekatan konsep ekstra dimensi sekadar pendekatan sains untuk merasionalkan konsep aqidah terkait Isra’ mi’raj, walau belum tentu tepat. Tetapi upaya pendekatan saintifik sering dipakai sebagai dalil aqli (akal) untuk memperkuat keyakinan dalam aqidah Islam. Sains seharusnya tidak kontradiktif dengan aqidah dan aqidah bukan hal yang bersifat dogmatis semata, tetapi memungkinkan dicerna dengan akal. Mengintegrasikan sains dalam memahami aqidah dapat menghapuskan dikotomi aqidah dan sains, karena Islam mengajarkan bahwa kajian sains tentang ayat-ayat kauniyah tak terpisahkan dari pemaknaan aqidah.
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.” (QS 3:190-191).
Pada sisi lain Isra’ mi’raj mengajarkan makna mendalam dalam hal ibadah. Makna penting Isra’ mi’raj bagi umat Islam ada pada keistimewaan penyampaian perintah shalat wajib lima waktu. Ini menunjukkan kekhususan shalat sebagai ibadah utama dalam Islam. Shalat mesti dilakukan oleh setiap Muslim, baik dia kaya maupun miskin, dia sehat maupun sakit. Ini berbeda dari ibadah zakat yang hanya dilakukan oleh orang-orang yang mampu secara ekonomi, atau puasa bagi yang kuat fisiknya, atau haji bagi yang sehat badannya dan mampu keuangannya.
Shalat lima kali sehari semalam yang didistribusikan di sela-sela kesibukan aktivitas kehidupan, mestinya mampu membersihkan diri dan jiwa setiap Muslim. Allah mengingatkan:
“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab  (Al  Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat  Allah  (shalat) adalah  lebih  besar  (keutamaannya  dari  ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Ankabut:45).
Isra’ dan mi’raj juga memberikan inspirasi untuk merenungi makna ibadah shalat, termasuk aspek saintifiknya. Umat Islam telah membuktikan bahwa sains pun bisa diintegrasikan dalam urusan ibadah, untuk menyempurnakan pelaksanaan ibadah. Demi kepentingan ibadah shalat, umat Islam mengembangkan ilmu astronomi atau ilmu falak untuk penentuan arah kiblat dan waktu shalat. Tuntutan ibadah mendorong kemajuan sains astronomi pada awal sejarah Islam. Kini astronomi telah menjadi alat bantu utama dalam penentuan arah kiblat dan waktu shalat. Konsepsi astronomi bola digunakan untuk penentuan arah kiblat. Perhitungan posisi matahari digunakan untuk mencari waktu istimewa dalam penentuan arah kiblat dan jadwal shalat harian. Kita cukup melihat jadwal shalat, tidak lagi direpotkan harus melihat langsung fenomena cahaya matahari atau bayangannya setiap akan shalat. Kini semua umat Islam Indonesia, apa pun ormasnya, secara umum bisa bersepakat dengan kriteria astronomis dalam penyusunan jadwal shalat.
Inspirasi pemanfaatan sains dalam ibadah juga diperluas untuk ibadah-ibadah lainnya terkait dengan penentuan waktu. Penentuan awal Ramadhan dan hari raya kini sudah banyak memanfaatkan pengetahuan astronomi atau ilmu falak, baik untuk keperluan perhitungannya (hisab) maupun untuk pengamatannya (rukyat). Penentuan awal Ramadhan atau hari raya yang kadang berbeda saat ini bukan lagi disebabkan oleh perbedaan metode hisab dan rukyat, tetapi lebih disebabkan oleh perbedaan kriteria astronomisnya. Alangkah indahnya kalau pelajaran kesepakatan kriteria astronomis dalam penentuan jadwal shalat juga diterapkan untuk penentuan awal Ramadhan dan hari raya sehingga potensi perbedaan dapat dihilangkan. Tanpa kesepakatan kriteria itu, tahun ini dan beberapa tahun ke depan kita akan menghadapi lagi persoalan perbedaan awal Ramadhan dan hari raya.
Upaya menuju titik temu kriteria astronomi sudah mulai dilakukan. Tinggal selangkah lagi kita bisa mendapatkan kriteria hisab rukyat Indonesia yang mempersatukan umat. Isra’ mi’raj pun mengajarkan upaya menuju “titik temu” menurut cara pandang manusiawi antara Allah dan Rasulullah terkait dengan jumlah shalat wajib yang semula 50 kali menjadi 5 kali sehari semalam. Satu sisi itu menunjukkan kemurahan Allah, tetapi pada sisi lain kita bisa mengambil pelajaran bahwa kompromi untuk mencapai titik temu adalah suatu keniscayaan. Kita tidak boleh memutlakkan pendapat kita seolah tidak bisa berubah, termasuk untuk mencapai titik temu. Kriteria astronomis hisab rukyat juga bukan sesuatu yang mutlak, mestinya bisa kita kompromikan untuk mendapatkan kesepakatan ada ketenteraman dalam beribadah shaum Ramadhan dan ibadah yang terkait dengan hari raya (zakat fitrah, shalat hari raya, Shaum di bulan Syawal,  shaum Arafah)
Isra’ mi’raj memberikan inspirasi mengintegrasikan sains dalam memperkuat aqidah dan menyempurnakan ibadah, selain mengingatkan pentingnya shalat lima waktu

Palestina di Hati Pemuda Indonesia


Aula Masjid Al Ikhlas Jati Padang Jakarta Selatan menjadi saksi berkobarnya semangat pemuda Indonesia untuk mendukung perjuangan rakyat Palestina. Para pemuda yang mayoritas merupakan utusan dari Lembaga Dakwah Kampus (LDK) se-Jawa ini berhimpum menyatu dalam acara seminar Pemuda dengan tema “Satu Cinta Satu Jiwa Untuk Palestina”. Seminar Pemuda ini diselenggarakan oleh Komite Nasional untuk Rakyat Palestina (KNRP) yang berlangsung pada hari Minggu 19 Juni 2011 dari pagi pukul 08.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB. Kegiatan ini merupakan salah satu rangkaian acara ASPAC (Asia Pacific Community Conference for Palestine) yang puncaknya akan berlangsung pada tangal 29 Juni 2011 di Jakarta Convention Centre.
Acara yang dihadiri kurang lebih dua ratus peserta ini dimulai dengan sebuah pemaparan tentang peran pemuda untuk Palestina. Sesi pertama ini langsung disampaikan oleh perwakilan dari Kemenlu Palestina yaitu Syeh Ziad Abu Zaid yang juga merupakan warga asli kelahiran Gaza. Kobaran semangat terlihat begitu nyata dirasakan semua yang hadir saat beliau menyampaikan orasinya yang khas seperti pejuang Palestina. Hal ini membuat seluruh ruangan secara bergelombang menggemakan takbir secara serentak. Di awal penyampaian beliau memantik peserta dengan menghadirkan sejarah masa silam islam yang penuh kejayaan. Yang mana hampir semua aktor utama dari kejayaan islam kala itu adalah para pemuda. Nabi Ibrahim menyampaikan islam pada saat masih sangat muda. Begitu pula Muhammad Al Fatih yang memimpin pasukan menaklukan Konstatinopel saat masih berusia 17 tahun. Syeh Ziad Abu Zaid juga meminta agar para peserta yang hadir nantinya mau berjuang untuk menyebarkan berita yang sesungguhnya terjadi di Palestina sehingga masyarakat mau berempati dengan apa yang mereka alami.

Selanjutnya sesi seminar yang kedua dimulai pukul 11.00 WIB. Materi yang dibahas yaitu data dan fakta Zionis di Indonesia. Pembicara kali ini berasal dari dalam negeri yaitu H. Ridwan Saidi. Beliau merupakan penulis buku “Data dan Fakta Zionis di Indonesia Dulu dan Kini”. H. Saidi banyak menyoroti pemerintahan sejak Orde Baru hingga saat ini yang memberikan peluang tumbuh suburnya lembaga atau jaringan Yahudi di Indonesia. Seperti Rotary Club dan Lions Club. Berbeda dengan masa pemerintahan bung Karno yang amat tegas menolak kehadiran Yahudi di Indonesia. Dahulu presiden Soekarno membubarkan seluruh jaringan Yahudi di Indonesia. Namun setelah Orde Baru jaringan-jaringan ini kembali muncul. Beliau juga berpendapat bahwa JIL (jaringan islam liberal) yang ada di Indonesia merupakan organisasi yang disusupi idologi zionis yahudi. Sedangkan di dunia internasional sekarang zionis menyusup lewat pemerintahan komunis Cina. Penyampaian dari beliau ini kemudian ditutup dengan sesi tanya jawab. Peserta sangat antusias merespons pernyataan-pernyataan yang disampaikan oleh Bapak Saidi.
Setelah sholat dhuhur acara dimeriahkan dengan penampilan tim nasyid Izzatul Islam (Izzis). Izzis membuka dengan lagu berjudul Gaza. Dalam aksinya Izzis membawakan empat buah lagu untuk menggugah semangat para peserta sekaligus menciptakan nuansa baru di ruang seminar setelah sebelumnya peserta fokus dengan materi yang disampaikan narasumber.
Seusai Izzis melantunkan nasyid, sesi seminar dilanjutkan dengan materi “Palestina Pasca Revolusi Arab” dengan pembicara langsung dari Gaza. Beliau adalah Syeikh Abu Mukmin yang merupakan salah satu juru kunci pemerintahan HAMAS. Beliau merupakan perwakilan dari Kementerian Informasi Palestina. Syeikh Abu menyatakan bahwa pasca terjadinya revolusi di dunia Arab khususnya di Mesir, eksistensi zionis Yahudi yang menduduki Palestina akan segera berakhir. Pasca revolusi Mesir, merembak tuntutan-tuntutan untuk membebaskan Palestina di kawasan jazirah Arab. Kemudian dari internal pemerintahan Palestina sendiri dua faksi yaitu Hamas dan Fatah saat ini sudah bersatu untuk membahas masa depan Palestina.
Selain itu, lelaki asli kelahiran Gaza ini juga memaparkan tanda-tanda kebangkitan Palestina. Salah satunya adalah tingginya tingkat kelahiran di Palestina utamanya di Gaza. Angka kelahiran bayi di Palestina merupakan tingkat kelahiran bayi tertinggi di dunia. Dengan 300 ratus lebih kelahiran bayi setiap harinya. Beliau juga memaparkan bahwa 23 anggota keluarganya sudah syahid karena ulah zionis laknatullah. Saat ditanya bagaimana kondisi saat ini di Gaza, beliau mengatakan bahwa hingga detik ini Gaza sangat membutuhkan obat-obatan. Persediaan obat-obatan di sana sangat minim.
Setelah sholat ashar acara dilanjutkan dengan presentasi profil wajihah kePalestinaan di kampus-kampus yang diwakili oleh JS UGM, Salam UI, STAN, UPI dan SEBI kemudian dilanjutkan dengan diskusi pemuda. Dari JS UGM diwakili oleh Arif Nurhayanto yang mempresentasikan profil Forsip Gama (Forum Solidaritas Palestina Universitas Gadjah Mada). Dalam presentasinya dia menjelaskan tentang visi, struktur, kegiatan yang telah dilakukan dan program kerja strategis ke depan. Forsip Gama sendiri berada di bawah naungan LDK Jama’ah Shaluddin yang di ditempatkan di dalam struktur Tim FSLDK yang kini mengampu fungsi Badan Khusus Isu Dunia Islam (BK IDI) FSLDK Indonesia. Kegiatan-kegiatan yang pernah dilakukan antara lain workshop aksi kemanusiaan, kajian, pameran foto, pemutarn film Palestina, konser nasyid, Tabligh Akbar serta penggalangan dana secara berkala di UGM dan di Jogja. Dia juga menjelaskan bahwa beberapa bulan ke depan JS UGM beserta FSLDK nasional akan menggelar kegiatan akbar bertaraf nasional untuk Palestina.
Setelah presentasi kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi dan sharing dengan seluruh peserta yang hadir. Diharapkan nantinya kampus-kampus yang belum ada wajihah Palestina, ke depan mampu untuk mendirikan komnitas-komunitas serupa seperti Space (Salam Palestine Centre) di UI, SSP (SEBI Solidarity for Palestine) di SEBI dan Forsip Gama di UGM sebagai wadah untuk menggalang persatuan demi memperjuangkan hak-hak rakyat Palestina.
(by: forsip_fsldk)

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates