Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

Sabtu, 30 April 2011

Sabtu, 30 April 2011

Urgensitas Dakwah Fardiyah


Seorang pedagang yang sukses adalah yang mampu menarik keuntungan setiap harinya. Sedangkan da’i yang sukses adalah da’i yang mampu menarik hati mad’u-nya setiap saat. Dalam artian ia mampu mengajak orang yang ia dakwahi untuk turut serta dalam jalan panjang dakwah dan perjuangan itu sendiri. Apabila statement ini difahami oleh setiap penyeru dakwah tentu akan menjadikan keuntungan bagi dakwah secara umum.Semakin banyak para da’i yang dapat menarik orang untuk masuk barisan dakwah, maka akan semakin besar pula kekuatan dakwah itu. Inilah urgensitas dakwah fardiyah.
Mari bayangkan, apa yang terlintas dalam fikiran antum. Jika ribuan pemuda Islam, agen perubahan, menerapkan dakwah fardiyah. Sudah tentu pertambahan jumlah pendukung dakwah tak terbayangkan. Kesungguhan dakwah yang dilakukan melalui pengerahan segenap kekuatan,tekad bulat, tanpa menunda-nunda dan malas – malasan terhadap semua amanah dakwah yang dibebankan, merupakan pengerahan semangat yang hakiki dalam upaya mencapai hasil dakwah yang produktif. Melalui hal inilah jumlah kaum muslimin di setiap medan terus meningkat, meski setelah jangka waktu yang lama.
Oleh karena itu tentu perlu disiapkan uslub dakwah yang tepat untuk menarik hati para objek dakwah selain tentunya para da’i sendiri harus senantiasa mengkondisikan ruh-nya, kesadaran hubungannya dengan Allah, bahwa dakwah yang ia lakukan semata – mata adalah karena memenuhi seruan-Nya, senantiasa menjaga kemurnian dan keikhlasan hatinya. Tidak terkotori oleh tendensi – tendensi apapun, selain dakwah itu sendiri. Dengan cara ini niscaya tujuan dakwah yang mulia, diterapkannya aturan Syari’ah dengan penegakan Khilafah insyaAllah lebih mudah terwujud.
Ada sebuah cerita menarik yang sejatinya harus kita jadikan contoh dalam melakukan dakwah fardiyah, ketika shahabat Rasulullah SAW, Mush’ab bin Umair melakukan kontak dakwah kepada ahlul quwwah di Yastrib (Madinah). Pertama kali ketika Rasulullah SAW mengutusnya ke Madinah, Mush’ab mendatangi As’ad bin Zararah. Singkat cerita As’ad bin Zararah pun memeluk Islam. Kemudian keduanya melakukan kontak dakwah kepada Sa’adz bin Muadz dan Asyad bin Hudhair, dua pemimpin bani Abdul Asyhal yang saat itu masih musyrik. Mendengar dua orang du’at Islam itu akan menemui mereka, dua orang pimpinan bani asyhal ini kemudian berdiskusi. Sa’ad berkata kepada Asyad, “ Saya tak peduli, pergilah engkau kepada dua orang itu (Mush’ab dan As’ad) yang telah datang ke tempat kita. Mereka datang ke tempat kita untuk menghina orang – orang tua kita. Usir mereka dan larang mereka untuk datang lagi ke tempat – tempat kita.
Asyad bin Hudhair kemudian mengemasi alat - alat perangnya dan pergi ke tempat Mush’ab dan As’ad. Ketika As’ad melihat Asyad datang, beliau berkata kepada Mush’ab, “ Ini adalah pemimpin kaumnya, dia telah datang kepada anda, berlaku benarlah kepada Allah dalam berbicara kepadanya “. Mush’ab berkata “ Bila ia berkenan duduk, saya akan bicara padanya”. Tak lama kemudian, Asyad bin Hudhair telah diahadapan mereka, dengan wajah marah ia berkata “ Apa yang kalian bawa keapada kami ? Menyingkirlah kalian berdua, bila kalian masih ingin hidup”. Dengan tenang Mush’ab berkata “Silakan duduk dan dengarlah baik – baik. Bila anda suka, terimalah tapi bila anda benci maka kami akan pergi meninggalkan anda”. Setelah itu Mush’ab menerangkan Asyad tentang Islam dan membacakan ayat – ayat Al Qur’an. Setelah itu Asyad berkata “Alangkah baik dan indahnya ini. Apa yang kalian lakukan bila hendak masuk kedalam agama ini”. Keduanya menjawab “Seseorang harus mandi, membersihkan diri dan membersihkan pakaiannya. Setelah itu membaca dua kalimat syahadat”. Asyad berkata “Di belakang saya ada seseorang yang sangat berpengaruh terhadap kaumnya. Bila ia mengikuti kalian, niscaya tak ada seorang pun dari kaumnya yang tidak mengikutinya. Sekarang juga saya akan datangkan dia kepada kalian. Dia adalah Sa’ad bin Mu’adz”. Asyad mengambil alat – alat perangnya kemudian pergi kepada Sa’ad dan kaumnya.
Saat itu Sa’ad tengah berada di tengah – tengah kaumnya di dalam balai pertemuan. Ketika melihat Asyad datang ia berkata “ Saya bersumpah, Asyad datang kepada kalian dengan wajah yang bebeda dari wajahnya ketika dia pergi”. Asyad berdiri di hadapan mereka, dan Sa’ad bertanya kepadanya “Apa yang telah kau lakukan ?”. Asyad menjawab “ Saya telah berbicara kepada dua orang itu. Demi Allah saya menganggap mereka itu tidak apa – apa. Dan saya telah larang mereka. Lalu mereka mengatakan akan melakukan apa yang anda inginkan. Saya diceritakan bahwa bani Haritsah datang kepada As’ad bin Zararah untuk membunuhnya, hal itu dilakukan karena mereka mengetahui bahwa dia adalah anak bibimu, yaitu untuk menghinamu…”. Mendengar hal itu, Sa’ad bin Mu’adz marah dan segera bangkit, kemudian ia mengambil senjatanya dan pergi menemui Mush’ab dan As’ad. Setelah sampai, ternyata ia mendapatkan Mush’ab dan As’ad dalam kondisi tenang. Mengertilah Sa’ad bahwasanya Asyad hanya ingin agar ia turut mendengarkan apa perkataan Mush’ab dan As’ad.
Setelah itu, apa yang terjadi pada Asyad bin Hudhair sebelumnya, kemudian terjadi pula pada diri Sa’ad bin Mu’adz, hingga akhirnya ia memeluk Islam. Kemudian sikapnya ini diikuti oleh seluruh kaumnya, Bani Asyhal. Allahu Akbar !
Demikianlah, upaya dakwah fardiyah yang dilakukan oleh Mush’ab bin Umair dengan melakukan kontak kepada para ahlul quwwah di Yastrib, yang akhirnya menjadi awal sejarah baru bagi perjuangan Rasulullah SAW, yaitu dengan dibaiatnya beliau oleh penduduk Yastrib, yang menjadi pertanda berdirinya Daulah Islam pertama dalam sejarah.

Belajar dari Sejarah, Antara NII, Umat Islam, dan 'Mereka'

وَلاَ يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّى يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا

“Dan Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (din) (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup." (QS. Al-Baqarah [2] : 217)

Belajar dari Sejarah
Majalah Time edisi 30 September 2002 menurunkan satu tulisan berjudul, ”Taking The Hard Road” di mana dibuka oleh tulisan “Indonesia menghadapi pilihan sulit menggulung kaum ekstrimis dan risikonya mendapatkan reaksi keras dari umat Islam”.
Hampir 10 tahun kemudian setelah tulisan itu, tahun 2010-2011, Kata-kata ekstrimis, terror bom, Gerakan radikal, mulai terdengar di masyarakat. Kata-kata yang dahulu baik, semakin kemari semakin bermakna negarif seperti jihad, Negara Islam, Syariat Islam, dan lainnya.
Namun, mungkin saat ini umat Islam yang semakin terdesak, seolah–olah tidak adanya antara Islam dengan ekstrimis, teroris atau bahkan seperti yang diungkapkan para orientalis, bahwa Islam itu teroris, ekstrimis, dan lainnya.
Media memulai peranan penting dalam pembentukan opini. Saat ini, isu yang digencarkan adalah tentang NII KW9, yang pada mulanya diduga ada orang yang dicuci otaknya. Namun mengapa tiba-tiba bisa menyambung kepada NII ini, di saat sebelumnya, media gencar memberitakan bom terhadap Ulil, Bom di Mesjid, Bom yang diliput, juga perampokan CIMB Niaga yang dalam diskusi-diskusi terbuka, ada saja yang mengaitkan dengan Umat Islam yang ‘ekstrimis, teroris, dll’.
Sebenarnya , tentang NII KW9 sudah lama dibahas oleh MUI Bagaimana mungkin ingin menegakan Negara Islam dengan cara yang menyalahi syariat? (syahadat ulang, membayar, tidak shalat, dll) Ini tentu sesuatu hal yang patut dipertanyakan.
Pada tahun 2002, MUI meneliti tentang NII KW9 yang ternyata diambil beberapa kesimpulan bahwa hubungan NII KW9 memiliki hubungan historis dengan Ma;had Al-Zaitun. Lalu, apakah tidak ada follow up dari pemerintah / MUI sendiri? Sehingga muncul banyak pertanyaan.
Saat ini isu tentang NII KW9 mulai dimunculkan kembali, padahal kasus ini sudah bergulir puluhan tahun, dimana terjadi desas-desus bahwa NII KW9 sengaja ‘dipelihara’ Intel untuk mengaburkan dengan NII sebenarnya yang dahulu secara sah dan resmi berdampingan dengan RI. Al Chaidar bahkan mengatakan, bahwa dalam kerjanya NII KW9 dilarang merekrut TNI dan Polri agar tidak ‘jeruk makan jeruk’. Dan muncul juga pertanyaan, kenapa baru-baru ini di blow up lagi oleh media?
Key Comboy dalam bukunya Intel, Menguak Tabir Dunia Intelijen Indonesia menyebutkan bahwa Ali Moetopo berhasil memasukkan orangnya yang bernama Sugiyarto dalam lingkaan orang-orang Darul Islam (DI/NII-pen). Sugiyarto ini berhasil membangun hubungan dengan Danu Mohammad Hasan (komandan DI Jabar) dan pada awalnya orang-orang DI ini dimanfaatkna untuk mengejar orang–orang komunis.
Umar Abduh membenarkan dalam tulisan berjudul Latar Belakang Gerakan Komando Jihad. “Ali Moertopo mengajukan ide tentang pembentukan dan pembangunan kembali kekuatan NII, guna menghadapi bahaya laten komunis” Ide Ali Moertopo ini selanjutnya diolah Danu M. Hasan, Tahmid Rahmat Basuki (Anak Karto Suwiryo), dan H. Ismail Pranoto.
Jadi, apa yang sebenarnya dituju oleh isu yang bergulir saat ini (NII)? Ditambah dengan adanya RUU Intelejen, dan pembahasan agama dan kekerasan yang marak di media?
Sejarah yang Kembali Terulang
Orang-orang Komando Jihad ditangkap, Undang-undang Subversif PNPS No. 11 Tahun 1963 .Sejak saat itulah UU Subversif ini digunakan sebagai senjata utama untuk menangani semua kasus yang bernuansa makar dari kalangan Islam. Kenneth E. Ward menyatakan, rezim Orde baru (yang dimotori oleh Jendal Ali Moertopo, Kepala Opsis/Aspri Presiden) sedari awal sudah menempatkan Umat Islam melalui Identitas dengan “Darul Islam” (NII), sehingga cenderung hendak menghancurkan Islam, sejak kasus Komando Jihad (Komji), stigma bahwa Islam merupakan agama kaum ekstrim kanan terus didengungkan oleh kelompok Ali Moerrtopo.
M. Sembodo dalam bukunya Pater Beek, Fremason, dan CIA pada hal 142 menjelaskan bahwa ada kesan yang ingin ditimbulkan dari penangkapan-penangkapan aktivis Islam.
Penangkapan ini memberikan adanya pembenaran pada Ali Moertopo bahwa telah muncul bahaya makar yang dilakukan oleh ekstrimis Islam guna memecah belah NKRI. Dengan cara ini ada dua keuntungan yang didapatkan, yaitu memberikan kesan bahwa umat Islam adalah umat yang tidak setia pada NKRI. Kedua memberikan tekanan kepada umat Islam agar tidak macam-macam dengan pemerintah.
Agar tidak dicap macam-macam, umat Islam mungkin saja harus sekuler, harus berpikir liberal, agar tidak dimusuhi oleh Pemerintah. Suatu penggiringan opini yang sangat cerdas sekali, yang akhirnya umat Islam mungkin menjadi malu dengan identitas keislamannya.
Jika kita melihat sejarah, terlihat pola sejarah masa lalu berulang kemasa kini. Jangan heran, mungkin suatu saat akan ada orang tua yang melarang anaknya mengaji, mungkin jika ada orang yang mengajak kepada Islam, orang akan curiga, ketika ada orang berdiskusi tentang Islam, akan menjauh, ketika membahas tentang Negara yang berasaskan Islam akan malu, ketika ada halaqah-halaqah beberapa orang dicurigai, ketika ada sebuah dauroh, dituduh memberontak, ketika membahas tentang politik Islam, dikaitkan dengan menggulingkan NKRI, Rohis dituduh awal mula perekrutan teroris. Rekrutmen da’i dicurigai. Akhirnya orde baru kembali terjadi. Rancangan Undang-undang Intelejen sedang dibahas di DPR. Pengawasan terhadap gerakan dakwah, penyusupan intelijen, dan sejarah berulang kembali.
BIN dapat melakukan penangkapan dan pemeriksaan intensif (interogasi) paling lama 7X24 jam. Usulan itu seperti halnya masa lalu, dapat membuat mereka ditangkap, tanpa surat penangkapan, tanpa pemberitahuan, dll. Sehingga Gerakan Islam semakin terbatas geraknya. Lagi-lagi kita harus belajar dari sejarah.
Isyhadu Bi anna Muslimun
“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Ali ‘Imran [3] : 139)
Ketika dakwah Rasulullah shallahu alaihi wa sallam dimulai, pertentangan mulai terjadi, terjadi fitnah, tuduhan, dan semacamnya. Sampai akhirnya Rasulullah shallahu alaihi wa sallam ditawari kekuasaan, tapi menolaknya, ditawari harta, wanita, tapi menolaknya, ditawari untuk saling menyembah Tuhan, tetap menolaknya, hingga diminta jangan berdakwah, dan tahun depan kafir Quraisy akan masuk Islam, ketika Rasul shallahu alaihi wa sallam mulai ragu turun firman Allah agar tidak menerima tawarannya.
Tapi, apakah dengan begitu dakwah Rasulullah shallahu alaihi wa sallam terhenti? Apakah dengan menyerang kekufuan mereka dakwah berhenti? Apakah dengan difitnah, ujian, diboikot dakwah berhenti? Apakah dengan bara' (menolak) kepada kaum kafir dakwah terhenti? Justru dengan hal-hal di atas, Islam semakin berkembang, Islam semakin justru Islam semakin eksis.
Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai” (QS. At Taubah [9] : 31-32)
Kaum muslimin di Indonesia diprovokasi untuk berpikir sekuler-liberal, sebagian dari budaya global. Bahkan kaum muslimin didorong untuk meninggalkan cara berpikir tauhid, yang mengakui Al-Quran sebagai kitab suci yang valid dan mukjizat, dan hanya mengakui Islam sebgai satu-satunya agama yang benar.
Dalam Ma’alim fii Thariq (Petunjuk Jalan), Sayyid Quthb menguraikan tentang hakikat Islam “Peraturan Allah, pada hakikatnya, adalah lebih baik, karena itu termasuk syariat Allah. Kapan pun, syariat yang dibuat oleh manusia tak akan dapat menyamai syariat Allah. Akan tetapi, ini bukan landasan da’wah. Landasan da’wah adalah menerima syariat Allah apa adanya dan menolak syariat lain apa pun wujudnya. Beginilah Islam, pada hakikatnya. Islam tidak memiliki makna lain selain makna ini.”
"Maka , tidak perlu kita mencari-cari aturan-aturan lain, kita cukup bangga menjadi muslim “Maka apakah mereka mencari din selain din Allah, padahal kepada Allahlah mereka berserah diri." (QS. Ali-Imran [3] : 83)
"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada din(Allah)yang hanif (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (QS. Ar-Rum [30] : 30)
Surat Al-Baqarah ayat 217 yang dikutip pada awal tulisan di atas menegaskan bahwa mereka akan terus memerangi kita, sampai din itu tidak ada pada diri kita satu persatu. Dalam din mencakup aqidah, maka sedikit demi sedikit, aqidah kita dirusak.
Di dalam din mencakup akhlak, dari situlah mulai “yaruddukum andinikum”. Semakin malu dengan identitas keislaman, di dalam din itu ada syariat, “yaruddukum andinikum”, semakin malu dengan syariat, anti terhadap penegakan hukum Islam, dalam din itu ada Islamic Wordview, mulai bangga dengan Liberalisme, Hermeneutika, Humanisme dan pada akhirnya seperti yang pernah disampaikan —Allahu yarham— Ustadz Rahmat Abdullah , “nggak bangga lagi dengan Islam” nggak bangga lagi dengan produk tarbiyah, bangganya dengan sana, sana, sana.” Dan memang itulah yang dituju mereka. Pertanyaannya apakah kita, kawan-kawan kita, saudara kita akan terjebak dengan makar mereka? Disinilah para dai berperan besar.

Muhammad Rizki Utama
Mahasiswa Arsitektur Institut Teknologi Bandung
rizkilesus.wordpress.com

Rabu, 27 April 2011

Rabu, 27 April 2011

Fiqh Dakwah Imam Syahid Hasan Al-Banna

Imam Syahid dikenal memiliki sifat yang berpengaruh yakni sifat pemimpin yang mampu mengubah:
Sifat-sifat tersebut tampak nyata pada:
1. Kemampuannya memilih pilihan tepat dari sekian banyak opsi.
2. menghindarkan diri dari membuat sesuatu menjadi  tidak jelas dan “njelimet” (rumit).
3. kemampuannya menerjemahkan pemikiran dan teori menjadi kerja nyata
4. kemampuannya menyelesaikan perselisihan dan mengoreksi kesalahan dengan bijak
5. kemampuannya membawa da’wahnya melewati berbagai marhalah dan sasaran dengan menggunakan syiar-syiar dan skill aplikatif.
Tentang kemampuannya memilih pilihan tepat dari sekian banyak opsi terlihat sejak awal kehidupannya, yakni ketika beliau dihadapkan pada pilihan tashawwuf yang benar dengan ikhlas dan amalnya dan pilihan ta’lim (pendidikan) dan irsyad (mengarahkan masyarakat) dengan keharusan bergaul dengan mereka dan menghadiri pertemuan-pertemuan mereka.
Imam Syahid berkata dalam memoarnya: “ ..maka aku memilih yang kedua setelah kulalui pilihan pertama.. karena amal yang manfaatnya tidak melampaui diri sendiri adalah amal yang kurang dan kecil. Sedangkan amal yang manfaatnya dirasakan oleh pelakunya dan juga orang lain di kampung atau bangsanya memiliki kemuliaan, posisi dan keagungan yang lebih.”
Kemampuan memilih secara tepat ini juga terlihat saat beliau memilih segmen da’wahnya yang pertama di warung-warung kopi, jalan-jalan dan masjid-masjid sekaligus… beliau menyatakan bahwa masjid saja tidak cukup. Beliau melihat pada keluguan mereka ada potensi iman yang terabaikan..bahwa mereka lebih membutuhkan penjagaan dan pemeliharaan, pengajaran dan arahan, pengorganisasian dan pengawasan.. dan beliau benar-benar mendapati kecukupan bersama mereka meskipun tidak ada keistimewaan pada mereka kecuali kesiapan untuk mendengar dan ikut yang berarti bahwa mereka mampu belajar dan siap menerima perubahan. Beliau juga tahu bahwa yang diinginkan dari mereka adalah menjadi contoh untuk yang lain dalam hal kesiapan penuh mereka untuk memperbaiki kekurangan, menjadi teladan bagaimana mereka menugaskan diri mereka dengan pekerjaan yang mereka tunaikan dengan segenap kemampuan. Boleh jadi ada yang datang kemudian dengan kemampuan yang lebih dari mereka.. Beliau puas jika mereka menjadi shaf pertama yang akan diikuti oleh shaf-shaf berikutnya yang seperti mereka. Diantara mereka ada yang menghadapi kematian tanpa pernah takut dan peduli dengan kezaliman penguasa saat itu.
Kemampuannya memilih pilihan tepat dari sekian banyak opsi terlihat pula saat beliau dihadapkan pada warisan ummat yang amat banyak dan cemerlang hasil dari pemikiran sekian banyak akal yang brilian selama 14 belas abad, beliau mampu memilih dari semua itu pilihan yang sesuai dengan spirit zamannya, lalu melontarkan kepada ummatnya fikrah yang telah matang yang di dalamnya terkandung semua kelengkapan dan kebaikan yang diidam-idamkan oleh ummat.. semuanya ada bahkan lebih.. dan telah beliau “edit” dengan baik..
Beliau menyatakan bahwa…
Kita tidak akan mengikat diri kecuali dengan sesuatu yang Allah telah perintahkan kita untuk mengikat diri kita dengannya..
Kita tidak akan mewarnai zaman ini dengan warna zaman yang tidak sesuai dengannya..bahwa Islam adalah din untuk semua manusia dan kemanusiaan.
Lalu beliau menampilkan fikrah dengan tampilan yang laik dan mulia, bisa diandalkan dan mampu diaplikasikan, serta memenuhi berbagai kebutuhan ummat semuanya, hal ini diakui oleh orang-orang yang hidup di zamannya.. maka setiap titik tolak kebangkitan ummat yang jauh dari fikrah beliau biasanya menjadi “kurang dan terbatas” atau “mustahil”.
Kemampuan ini terlihat kembali ketika beliau diajak oleh rekan sejawatnya (yang kemudian berpisah) untuk mengubah proyek da’wahnya yang teramat panjang, aktivitas damai, tenang dan moderat, menjadi proyek perlawanan dan konfrontatif (melawan pemerintah),  namun beliau menyatakan bahwa beliau tidak akan meninggalkan keyakinannya hanya karena keraguan mereka, sebab wasilah yang telah beliau pilih untuk mencapai tujuan adalah hasil istiqra (bacaan mendalam satu persatu hingga akhir) terhadap Al-Quran dan Sunnah Rasul-Nya yang telah memakan waktu dan tenaga beliau dalam kajian dan penelitian mendalam. Semua itu telah melahirkan perasaan ithmi’nan (ketentraman), keyakinan, ridha dan kepuasan.
Inilah yang beliau isyaratkan dengan ucapannya: “Memusuhi penguasa dan menyerangnya dalam segala situasi bukanlah ajaran Islam, karena bisa jadi suatu saat ia berdiri berhadapan dengan musuh kaum muslimin dan menghalangi tujuan musuh, maka merupakan sikap bodoh, dan bukanlah ajaran Islam kalau kita menyerang penguasa yang demikian.”
Demikianlah sikap beliau ketika ada keputusan pembubaran jamaah beliau dan penangkapan tokoh-tokohnya yang membuat sempit dada mereka yang sempit dadanya, namun beliau tetap menjauhkan diri dan da’wahnya dari konflik sesama muslim (dengan memberontak terhadap penguasa muslim), dan beliau menyimpan kekuatannya untuk berkhidmat kepada tanah airnya dan untuk ummatnya yang besar.
Oleh karena itu beliau berkata kepada pengikutnya: “Serahkan diri kalian kepada Sa’diyyin*. Aku tidak akan mengorbankan ummat demi pemerintah, dan tidak akan mengorbankan tanah air karena masalah kekuasaan. Yang menjadi patokan adalah akhlak bangsa dan bukan bentuk pemerintahan. Negara dalam Islam adalah bentuk ungkapan dan aplikasi pemahaman terhadap agama dan akhlak.”
Semua itu menjelaskan kemampuan beliau memilih opsi yang tepat dari berbagai alternative yang ada.
*Sa’diyyin : orang-orang pemerintah pimpinan Sa’ad Zaghlul Basya yang ingin menangkap Ikhwan pasca jihad Palestina. (Dr. Shalah)

Selasa, 26 April 2011

Selasa, 26 April 2011

Kita Bekerja Untuk SIAPA?


Diposkan oleh admin di 11:44
Oleh : Cahyadi Takariawan*
Tidak pernah bosan saya mengajak anda semua untuk selalu berbuat kebaikan, semaksimal kemampuan yang bisa kita lakukan. Ajakan ini sesungguhnya untuk menyemangati diri sendiri, dan mengingatkan diri ini, agar selalu melakukan hal terbaik yang bisa kita lakukan. Sejarah hidup yang teramat pendek jangan disia-siakan dengan aktivitas yang tidak memberi kontribusi bagi kebaikan. Namun, ada catatan tebal yang harus selalu kita ingat: kita bekerja dan berbuat baik, untuk siapakah?

Suatu saat anda menolong tetangga yang sedang mengalami kesulitan. Dengan penuh perasaan tanggung jawab anda membantunya, anda memberikan pertolongan yang sangat diperlukannya. Pada kesempatan yang lain, tetangga tersebut memerlukan pertolongan lagi. Bergegas anda memberikan bantuan. Berkali-kali anda mendatangi rumahnya, dan memberikan bantuan yang sangat bermanfaat baginya. Lagi dan lagi, tidak bisa dihitung berapa banyak anda menolongnya. Tidak bisa diingat lagi berapa kali anda berbuat baik kepadanya.

Namun bukannya ucapan terimakasih yang anda dapatkan. Tetangga tersebut justru menyebarkan fitnah kemana-mana, justru menjelek-jelekkan anda di hadapan warga, bahwa anda terlalu pelit untuk menolong. Anda dianggap tidak ikhlas membantu, dan sangat individualis. Anda dianggap tidak memiliki kepedulian terhadap kondisi tetangga. Ramailah gosip di antara tetangga, menyebar berita negatif tentang anda. Akhirnya anda menjadi selebritis di lingkungan tempat tinggal, karena banyak dibicarakan orang.

Sedih bukan main rasa hati anda. Rasanya sudah tidak kurang anda membantu tetangga tersebut dalam berbagai kesulitan hidupnya. Lalu mana imbalan baiknya ? Mana ucapan terima kasihnya ? Mana apresiasi positifnya ? Mengapa justru ia melempar fitnah dan tuduhan kemana-mana ? Saat mengalami kejadian seperti itu, apa yang akan anda lakukan ?

“Kalau begitu, selamanya saya tidak akan membantu dia lagi. Tidak ada gunanya saya membantu orang yang tidak mengetahui balas budi”.

“Menyesal sekali saya membantunya selama ini. Ternyata dia orang yang tidak layak dikasihani, justru sekarang dia memusuhi”.

“Anda saja saya tidak membantunya selama ini, itu akan lebih baik bagi saya. Karena sudah banyak membantu, masih juga difitnah”.

Sayang sekali jika seperti itu ungkapan anda. Sungguh, anda telah kalah di titik itu. Jika kita bekerja dan berbuat baik dengan penuh harapan akan mendapatkan apresiasi positif dari manusia, bisa dipastikan kita akan mengalami kekecewaan yang teramat fatal. Karena bisa jadi, pekerjaan dan perbuatan baik tersebut tidak mendapatkan apresiasi seperti yang kita harapkan. Bahkan ada kalanya, mereka yang mendapatkan kebaikan dari kita, justru menjadi orang yang membenci dan memusuhi kita. Orang yang paling banyak kita bantu, bisa jadi justru paling memusuhi dan membenci kita.

Baiklah, kita tidak perlu merinci sebab-sebabnya, mengapa apresiasi yang kita harapkan ternyata tidak selalu sesuai dengan kenyataan. Tidak perlu kita korek sebab-sebabnya. Namun kita lebih fokus kepada pertanyaan yang lebih substansial, untuk siapakah kita berbuat kebaikan ? Untuk siapakah kita bekerja ? Jika mengharap balasan kebaikan dari manusia, ingatlah manusia itu sangat lemah dan penuh keterbatasan. Tidak mungkin akan bisa memberikan apresiasi yang memadai sesuai dengan kadar kebaikan yang kita berikan.

Saya mengingatkan diri sendiri dan anda semuanya, mari bekerja untuk Sang Pencipta Manusia. Tuhannya manusia. Pemilik dan Penguasa alam semesta. Dialah Tuhan, Allah Yang Maha Kuasa. Dialah Dzat Yang Maha Sempurna. Yang bisa memberikan apresiasi secara tepat dan adil. Yang bisa memberikan balasan bahkan secara berlipat, dan tanpa batas. Yang tidak pernah memiliki kekurangan. Yang tidak memiliki keterbatasan. Dia Maha Membalas segala perbuatan. Sekecil apapun kebaikan, ataupun keburukan. Dia sangat teliti dan jeli.

Mungkin anda adalah tokoh masyarakat, yang telah banyak berbuat kebaikan untuk membangun masyarakat di desa anda. Puluhan tahun anda bekerja untuk memajukan masyarakat, berjuang untuk membangun ekonomi, sosial dan budaya masyarakat. Anda kerjakan siang dan malam, tanpa mengenal lelah. Anda mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, harta benda dan semua fasilitas yang anda miliki demi kebaikan masyarakat desa. Puluhan tahun anda berada di tengah mereka mengajak melakukan kebaikan dan hasilnya sedikit demi sedikit mulai terasakan. Perlahan namun pasti, kondisi wilayah anda semakin membaik, semakin maju, semakin kondusif.

Namun jangan anda kecewa, jika anda maju dalam pemilihan kepala desa, ternyata bukan anda pemenangnya. Orang lain telah terpilih menjadi pemenang, dan orangnya biasa saja. Anda merasa sangat heran, bagaimana ada orang yang tidak ikut dalam perjuangan puluhan tahun di desa itu, namun justru menjadi pemenang dalam pemilihan kepala desa ? Anda merasa telah menjadi tokoh yang sangat dikenal masyarakat desa melalui perjuangan panjang yang anda lakukan, namun tidak menghasilkan suara signifikan dalam pemilihan.

Yang bisa lebih menyakitkan bagi anda, ternyata ada sebagian warga desa yang melakukan black campaigne terhadap anda. Menjelek-jelekkan anda, menjatuhkan nama anda, mengajak masyarakat membenci dan akhirnya tidak memilih anda. Sedih sekali rasanya, anda merasa telah menghabiskan puluhan tahun yang panjang untuk perjuangan, namun orang lain telah menikmati hasilnya. Anda merasa dicampakkan dan dibuang secara hina ke tong sampah. Di masa tua, ternyata anda tidak mendapatkan posisi yang mapan.

Dengan marah dan penuh emosi, anda berbicara di hadapan masyarakat desa. “Jika tidak ada saya, desa ini masih tertinggal, kumuh dan kotor. Sayalah yang telah berjuang tiga puluh tahun membangun desa ini. Dulu tidak ada orang yang mau berjuang, semua saya lakukan sendirian. Ternyata kalian tidak menghargai perjuangan saya. Sia-sia semua yang sudah saya lakukan untuk kalian”.

Sayang sekali jika anda menyesali semua tumpukan kebaikan yang telah anda usahakan puluhan tahun. Tetas keringat dan air mata telah anda relakan mewarnai detik-detik perjuangan yang sangat panjang. Melelahkan, dan semua telah Allah berikan catatan balasan berupa pahala kebaikan atas segala detail usaha serta jerih payah anda. Keringat anda, rasa lelah anda, air mata anda, bermalam-malamnya anda, pengorbanan anda, semua telah Allah tetapkan balasan kebaikan. Telah Allah tuliskan pahala atas segala amal anda. Jangan anda merusak dan menghapus pahala kebaikan itu dengan rasa penyesalan dan rasa kesia-siaan. Jangan, karena itu potensial merusakkan nilai amal kebaikan anda.

Mungkin anda adalah tokoh dalam sebuah organisasi dakwah. Sejak awal mula berdirinya organisasi, anda termasuk perintisnya. Anda mengetahui segala suka duka merintis dan membesarkan organisasi dakwah, semua penuh perjuangan yang melelahkan. Berbagai tantangan dan hambatan terus menghadang sejak awal pendirian, dan anda termasuk tokoh yang gigih berjuang menghidupi organisasi. Sekian banyak kekurangan dan kelemahan anda hadapi bersama rekan-rekan seperjuangan, di masa-masa sulit anda mampu bertahan dan tegar dengan banyaknya ujian berupa kesulitan.

Anda relakan meninggalkan anak isteri, berlama-lama melakukan perjalanan ke berbagai daerah. Anda relakan meninggalkan pekerjaan, demi perjuangan menyebarkan usaha dakwah ke berbagai tempat. Sampai ke pelosok, sampai ke pedalaman, sampai daerah terpencil. Menyeberang sungai, mendaki bukit, menaiki sepeda motor tua, kadang berjalan kaki puluhan kilometer. Menyeberang laut dengan menaiki kapal kelas super ekonomi, tanpa membawa bekal yang berarti. Sementara keluarga yang di rumah juga tidak dicukupi dengan keperluan hidup sehari hari. Tawakal kepada Allah, dan Allah Maha Mencukupi.

Kini organisasi dakwah anda sudah membesar. Pengurus dan kader sudah bertebaran di seluruh pelosok tanah air. Tidak pernah terbayangkan oleh anda, bahwa organisasi dakwah yang anda rintis tigapuluh tahun yang lalu itu akhirnya tumbuh berkembang, membesar, menjadi sebuah kekuatan yang sangat membanggakan. Terasa lega, bahwa hasil perjuangan panjang itu mulai kelihatan buahnya. Tiga puluh tahun yang lalu, organisasi yang anda rintis itu tidak dikenal siapa-siapa, tidak dipedulikan siapa-siapa, bahkan banyak diejek dan ditertawakan, namun dengan sabar anda tetap membersamainya. Kini organisasi itu telah menjelma menjadi idola, banyak dielu-elukan dan diakui kebesarannya.

Namun, sesuatu terasa mengganjal bagi anda. Perjuangan yang telah anda jalani puluhan tahun itu ternyata tidak mendapatkan apresiasi dari petinggi organisasi. Beberapa orang generasi awal yang merintis organisasi bersama anda, kini telah menempati posisi penting. Mereka memiliki kehidupan yang sangat layak, berbeda dengan anda. Seorang teman anda, sesama generasi perintis organisasi, memiliki rumah mewah, mobil mewah, dan fasilitas kehidupan yang sangat mencukupi. Anak-anaknya sekolah dan kuliah di luar negeri. Isterinya tampak mengenakan perhiasan warna warni. Tersulutlah rasa iri, mengapa jauh berbeda seperti ini ?

Anda hanyalah seorang tua yang berjalan kaki. Rumah anda sangat sederhana di pinggiran kota. Sepeda motor anda seusia perjuangan yang telah anda jalani. Bahkan anda kesulitan membiayai sekolah dan kuliah anak-anak anda, jangankan ke luar negeri. Sekolah di kampung sendiri saja demikian berat membiayai. Hidup anda hingga kini masih penuh dinamika perjuangan, sementara anda lihat generasi seperjuangan anda telah berada pada posisi kemapanan.

Marah sekali rasa hati anda. Geram, anda menggoreskan kata-kata, menuliskan kegelisahan. “Organisasi dakwah ini besar karena perjuangan yang saya lakukan. Jika tidak saya hidupi organisasi ini tiga puluh tahun yang lalu, tidak akan menjadi sebesar ini. Saya telah habiskan semua yang saya punya, telah saya sumbangkan apa yang melekat pada diri saya dan isteri saya. Tanah saya jual, perhiasan istri kami relakan terjual, semua demi kelangsungan hidup organisasi. Pekerjaan tetap di perusahaan saya tinggal, agar saya bisa berkhidmat untuk organisasi, padahal dulu saya mendapatkan gaji besar dari perusahaan. Semua saya relakan demi membesarkan organisasi ini”.

“Namun setelah organisasi ini membesar, kalian campakkan saya begitu saja. Rasanya seperti menjadi orang terbuang, menjadi orang yang tidak memiliki arti sama sekali. Kalian telah menjadi orang yang lupa diri, kalian hidup bermewah sementara saya hidup seperti sampah. Menyesal sekali saya telah ikut membesarkan organisasi ini. Sia-sia semua perjuangan yang saya lakukan, jika akhirnya hanya seperti ini. Brengsek semua kalian ini, tidak bisa menghargai jasa para pendiri”.

Marah, gemas, geram, dendam. Bercampur baur antara kecintaan dengan kebencian. Anda melontarkan sumpah serapah, mengungkit-ungkit jasa dan kebaikan yang sudah anda lakukan tiga puluh tahun. Anda menyesali kebaikan yang sudah anda lakukan, berupa perjuangan panjang, berupa berlelah-lelah, berjalan siang dan malam ke berbagai wilayah, berjaga malam untuk merancang dan mengaplikasikan strategi. Anda merasa tidak dihargai dan tidak mendapatkan apresiasi yang memadai.

Anda ungkit tanah yang dulu anda jual, sepeda motor yang digadaikan, perhiasan isteri yang disumbangkan, perabotan rumah yang digunakan melengkapi perkantoran. Anda ungkap kembali waktu yang telah anda curahkan, tenaga yang telah anda baktikan, pikiran yang telah anda sumbangkan. Tigapuluh tahun perjuangan bukanlah waktu yang sedikit, jelas itu masa yang panjang. Anda ungkit itu semua, demi mendapatkan pengakuan dan apresiasi. Anda merasa telah terzhalimi.

Tidak, anda tidak boleh seperti itu. Anda tidak layak mengungkit dan menyesali amal kebaikan yang telah Allah tetapkan pahala berlipatnya. Anda tidak boleh merasa sia-sia terhadap segala langkah perjuangan anda puluhan tahun membesarkan organisasi dakwah, dengan segala kesulitan dan hambatan, dengan segala keringat, darah dan air mata. Anda tidak boleh meratapi sejarah yang telah anda torehkan dalam membesarkan organisasi. Jangan lakukan, karena itu semua potensial merusakkan amal kebaikan anda. Jangan anda sesali, karena itu berpotensi merontokkan pahala kebaikan yang telah Allah tuliskan.

Anda boleh memberikan masukan dan kritik, tentu saja, dalam rangka tausiyah dan menguatkan organisasi saat ini. Namun tidak dengan kebencian, tidak dengan dendam, tidak dengan kemarahan, tidak dengan kedengkian. Apalagi hanya terpicu oleh perbedaan materi, ada sebagian generasi perintis organisasi yang berada dalam kondisi kemapanan, dan sementara anda termasuk yang masih sangat jauh dari kesejahteraan. Jadi sebenarnya kemarahan anda karena apa ?

Semua langkah kebaikan, semua tetes keringat, semua air mata, semua titik darah yang pernah keluar dari diri anda, telah menjadi amal kebaikan yang berlipat pahalanya. Telah membuahkan berkah bagi diri, keluarga dan organisasi anda. Tidak ada kebaikan yang sia-sia, semua pasti ada hasilnya. Tidak mesti hasil itu berupa balasan langsung di dunia, namun bisa kita nikmati nanti di surga. Tidak mesti balasan kebaikan itu datang dari organisasi yang kita tumbuhkan, namun bisa jadi dari arah lain yang tidak pernah kita sangka sebelumnya. Allah Maha Adil dan Bijaksana.

Berharaplah kepada Allah saja, sebab Dia yang Maha Kaya. Berharaplah kepada Allah, sebab Dia Yang Maha memberi balasan. Pasti anda tidak akan kecewa. Allah tidak akan menyia-nyiakan semua jerih payah anda. Allah tidak akan melupakan semua usaha dan perjuangan anda. Allah tidak akan melalaikan balasan bagi setiap titik kebaikan, walau sebesar dzarrah. Tidak ada manusia yang bisa melakukan itu semua dengan sempurna, karena manusia sangat banyak kelemahan dan keterbatasannya.

Menyakitkan rasanya ? Dakwah ternyata melelahkan, dakwah ternyata menyakitkan, benarkah ? Coba kita simak kembali tausiyah ustadz Rahmat Abdullah, Allah yarham.

“Memang seperti itulah dakwah. Dakwah adalah cinta. Dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu. Sampai pikiranmu. Sampai perhatianmu. Berjalan, duduk, dan tidurmu.. Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah. Tentang umat yang kau cintai..

Lagi-lagi memang seperti itu. Dakwah. Menyedot saripati energimu. Sampai tulang belulangmu. Sampai daging terakhir yang menempel di tubuh rentamu. Tubuh yang luluh lantak diseret-seret.. Tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari.. Seperti itu pula kejadiannya pada rambut Rasulullah. Beliau memang akan tua juga. Tapi kepalanya beruban karena beban berat dari ayat yang diturunkan Allah….

Dakwah bukannya tidak melelahkan. Bukannya tidak membosankan. Dakwah bukannya tidak menyakitkan. Bahkan juga para pejuang risalah bukannya sepi dari godaan kefuturan. Tidak… Justru kelelahan. Justru rasa sakit itu selalu bersama mereka sepanjang hidupnya. Setiap hari. Satu kisah heroik, akan segera mereka sambung lagi dengan amalan yang jauh lebih “tragis”. Justru karena rasa sakit itu selalu mereka rasakan, selalu menemani… Justru karena rasa sakit itu selalu mengintai ke mana pun mereka pergi… akhirnya menjadi adaptasi. Kalau iman dan godaan rasa lelah selalu bertempur, pada akhirnya salah satunya harus mengalah. Dan rasa lelah itu sendiri yang akhirnya lelah untuk mencekik iman. Lalu terus berkobar dalam dada. Begitu pula rasa sakit. Hingga luka tak kau rasa lagi sebagai luka. Hingga “hasrat untuk mengeluh” tidak lagi terlalu menggoda dibandingkan jihad yang begitu cantik.

Begitupun Umar. Saat Rasulullah wafat, ia histeris. Saat Abu Bakar wafat, ia tidak lagi mengamuk. Bukannya tidak cinta pada Abu Bakar. Tapi saking seringnya “ditinggalkan” , hal itu sudah menjadi kewajaran. Dan menjadi semacam tonik bagi iman..”

Demikian untaian mutiara yang sangat dalam dari Allah Yarham, ustadz Rahmat Abdullah. Sekarang saatnya introspeksi, masuk ke dalam relung jiwa kita sendiri. Menata, mengaca, mengoreksi hati. Menjawab dengan jujur, sebenarnya kita bekerja untuk siapa? Jika untuk manusia, bersiaplah untuk merana. Jika untuk Allah semata, bersiaplah mendapatkan kebaikan berlipat dariNya. Di dunia, atau nanti di surgaNya.

Pancoran Barat, 21 April 2011

Minggu, 24 April 2011

Minggu, 24 April 2011

Muhasabah Kader Dakwah

Malam Muhasabah Kader Dakwah di Masjid Syuhada Jogjakarta.

Ratusan kader ikhwan berkoko putih-putih memadati masjid “simbol perjuangan” rakyat Jogja semenjak Isya. Dua lantai masjid pun penuh sesak sampai ke emperan di malam minggu itu. Seakan tak mau tertinggal dari kafilah dakwah, hujan pun turut turun dengan amat deras bersamaan cucuran air mata penyesalan, air mata taubat, air mata kekhilafan para kader dakwah yang bersimpuh di masjid mendengar taushiyah muhasabah dari ustadz Muslih Abdul Karim.

“Takutlah pada (berbuat) kedzoliman. Karena itu yang akan membuat kita bangkrut di hadapan Allah,” ujar beliau lalu menceritakan sepenggal hadits…

…Dua orang duduk bersimpuh di hadapan pengadilan Allah. Kemudian yang satu bilang, “Ya Allah, si fulan ini dulu mendzolimi saya ketika di dunia. Sekarang saya ingin keadilan-Mu.”

Allah berfirman, “Ya fulan, kamu harus tanggung jawab. Berikan pahala amalmu sebagai ganti.”

“Ya Allah, aku sudah tidak punya pahala lagi. Semua amalku sudah diambil orang lain yang menuntut atas kedzolimanku.”

Orang yang didzolimi berkata, “Ya Allah, kalau begitu, dosa-dosa ku tolong dipikulkan pada si fulan”.

Tiba-tiba nabi menangis, Nabi mencucurkan air mata , beliau sesunggukan bersabda….

“Innahu layaumun adzim, kullunnas yahtajuna ila man yahmilu min audzarihim…”
(sungguh, hari itu adalah hari yang sangat dahsyat, semua manusia sangat berharap ada orang lain yang mau memikul dosa-dosanya)

Nabi terus menangis, dan para sahabat juga turut menangis deras….
Lalu Nabi membaca ayat…”Fattaqullah wa ashlihu dzata bainikum…”
(Bertaqwalah kepada Allah, dan perbaikilah hubungan diantara kalian….)

Ustadz Muslih juga mengingatkan dengan sebuah hadits dimana Nabi saw mengabarkan kepada sahabat-sahabat tentang “orang biasa” yang dijamin masuk surga lantaran hatinya “terbebas” dari keburukan kepada kaum muslimin lainnya. Tidak punya sakit hati, dengki, iri hati terhadap mu’min yang lain.

“Ternyata, yang menyebabkan kita selamat, bahagia di dunia dan akhirat adalah kebersihan jiwa. Ini muhasabah kita. Mumpung kita baru 55 hari dari tahun 2011, lembaran-lembaran kita itu tolong dimuhasabah,” tegas beliau.

Itulah yang difirmankan Allah:

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَ لِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ آمَنُوْا، رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَّحِيْمٌ

“Wahai Tuhan kami! Ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dengan iman, dan jangalah Kau tanamkan di dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman. Wahai Tuhan kami! Sesungguhnya Engkau Mahakasih dan Maha Penyayang.” (QS. al-Hasyr: 10)

Di akhir taushiyah, Ustadz Muslich mewasiatkan semua kader untuk tak henti merawat ruhiyah dan akhlaknya dengan 5 wasiat: menjaga sholat jama’ah, menjaga tilawah, menjaga qiyamullail, memperbanyak istighfar, dan terakhir jangan marah.

“Tolong yang sudah berkeluarga, pulang nanti minta maaf sama istri. Jangan sampai ada kader yang marah-marah sama istri,” pesan beliau mewanti-wanti.

Laa taghdhob … laa taghdhob….laa taghdhob… WALAKAL JANNAH
(jangan marah..jangan marah..jangan marah… maka surga untukmu)

Untukmu Kader Dakwah

KH Rahmat Abdullah

“Siapa yang menginginkan naungan surga maka hendaklah ia berpegang teguh dengan jamaah.” (At-Tirmidzi)


Keikhlasan hati, kebersihan hati nurani, kesucian jiwa, ketulusan kata-kata, dan amanah dalam menunaikan tugas, semuanya itu merupakan akhlak mulia. Untuk menyempunakan akhlak itulah Rasulullah saw diutus agar setiap orang menjadi batu bata bagi pembangunan masyarakat yang baik.

Sepanjang masa, pada setiap umat, pasti selalu ada orang-orang shalih, para hamba yang zuhud, atau para da’i yang ikhlas. Bahkan pada bangsa seburuk apa pun, tidak mungkin kosong dari orang-orang yang apabila disebut nama Allah begetarlah hatinya, mengenal Allah dan memiliki akhlak terpuji.

Namun, dinamika sejarah dan pertumbuhan peradaban bukanlah ditinjau dari semata-mata keberadaan pribadi-pribadi yang memiliki akhlak seperti itu, betapapun tinggi keshalihan, ketakwaan, dan pemahaman mereka terhadap berbagai persoalan. Yang menjadi ukuran justru adanya harakah jama’iyyah (gerakan kolektif) dan keshalihan yang bersifat masif sehingga menjadi arus kuat lagi tangguh yang mempunyai pengaruh terhadap arus-arus lainnya dan bukannya terpengaruh.

Amal jama’i adalah pesan Rasulullah kepada kaum Muslimin. Sabdanya:

“Tangan Allah beserta jamaah dan siapa yang menyendiri, menyendiri pula di dalam neraka.” (At-Tirmidzi)

Sabdanya pula:

“Kalian harus berjamaah. Sebab serigala banya akan memangsa kambing yang menyendiri.” (HR. Ahmad)

“Siapa yang menginginkan naungan surga maka hendaklah ia berpegang teguh dengan jamaah.” (At-Tirmidzi)

Tentang jamaah, ‘Abdullah Bin Mas’ud mengatakan,

“Ia adalah tali Allah yang kuat yang Dia perintahkan untuk memegangnya. Dan apa yang kalian tidak sukai dalam jamaah dan ketaatan adalah lebih baik dari apa yang kamu sukai dalam perpecahan.”’

‘Ali Bin Abi Thalib mengatakan, “Kekeruhan dalam jamaah lebih haik dari pada kebeningan dalam kesendirian.”

Amal Jama’i yang Sistemik

Amal jama’i haruslah sistemik, berpijak di atas qiyadah (kepemimpinan) yang bertanggung jawab, basis yang kokoh, persepsi yang jelas, yang mengatur hubungan antara qiyadah dengan prajurit (junud) atas dasar syura (musyawarah) yang mengikat, dan ketaatan yang penuh kesadaran serta pemahaman.

Islam tidak mengenal jamaah yang tanpa sistem. Sampai-sampai jamaah kecil dalam shalat saja diatur oleh sebuah sistem. Misalnya bahwa Allah tidak akan melihat kepada shaf (barisan) yang bengkok; shaf harus rapat, tidak boleh membiarkan ada celah di dalam shaf, sebab setiap celah akan diisi oleh syaitan; bahu seseorang berdekatan dengan bahu saudaranya, kaki dengan kaki; sama dalam gerakan dan penampilan. Seperti kesamaan dalam akidah dan orientasi.

Semoga para kader senantiasa mendapatkan perlindungan dan bimbingan dari Allah SWT ditengah derasnya arus dan badai perusakan ummat. Kita harus yakin sepenuhnya akan pertolongan Allah SWT dan bukan yakin dan percaya pada diri sendiri. Masukkan diri kedalam benteng-benteng kekuatan halaqah tempat Junud Da’wah melingkar dalam suatu benteng perlindungan, menghimpun bekal dan amunisi untuk terjun ke arena pertarungan Haq dan bathil yang berat dan menuntut pengorbanan.

Disanalah kita mentarbiah diri sendiri dan generasi mendatang. Inilah sebagian pelipur kesedihan ummat yang berkepanjangan, dengan munculnya generasi baru. Generasi yang siap memikul beban da’wah dan menegakan Islam. Inilah harapan baru bagi masa depan yang lebih gemilang, dibawah naungan Al-Quran dan cahaya Islam rahmatan lil alamin.

Wahai Kader Dakwah... Jadilah Seperti Pensil

...dalam proses menulis, kadang beberapa kali harus berhenti dan menggunakan rautan untuk menajamkan kembali pensil. rautan ini pasti akan membuat si pensil menderita. tapi setelah proses meraut selesai, si pensil akan mendapatkan ketajamannya kembali...


Seorang cucu bertanya kepada Neneknya yang sedang menulis surat, “Nenek lagi menulis surat tentang pengalama kita? atau pengalaman aku?”.

Si Nenek berhenti menulis dan berkata kepada cucunya, “Sekarang nenek sedang menulis tentang kamu, tapi ada yang lebih penting dari isi tulisan ini yaitu pensil yang Nenek pakai”.

“Nenek harap kamu bakal seperti pensil ini ketika kamu besar nanti”, ujar si Nenek lagi. Mendengar jawab ini si Cucu lalu melihat pensilnya dan bertanya kembali kepada si Nenek ketika dia melihat tidak ada istimewanya dari pensil yang Nenek pakai.

“Tapi Nek, kayaknya pensil itu sama saja dengan pensil lainnya”, kata si Cucu. Si Nenek kemudian menjawab, “Itu semua tergantung dari kamu melihat pensil ini”.

"Pensil ini punya 5 kualilias yang bisa membantumu selalu tenang dalam menjalani hidup, kalau kamu selalu memegang prinsip-prinsip itu di dalam hidup ini." Si Nenek menjelaskan 5 kualitas sebuah pensil.

Apa gerangan 5 kualitas yang terdapat dalam sebuah pensil?

Kualitas yang Pertama, Pensil ingatkan kamu kalau kamu bisa berbuat hal hebat dalam hidup ini, layaknya sebuah pensil kamu jangan pernah lupa kalau ada tangan yang selalu membimbing langkah kamu dalam hidup ini.

Kita menyebutnya Allah SWT. Dia akan selalu membimbing kita menurut kehendak-Nya.

Kualitas kedua, dalam proses menulis, nenek kadang beberapa kali harus berhenti dan menggunakan rautan untuk menajamkan kembali pensil nenek. Rautan ini pasti akan membuat si pensil menderita. Tapi setelah proses meraut selesai, si pensil akan mendapatkan ketajamannya kembali.

Begitu juga dengan kamu, dalam hidup ini kamu harus berani menerima penderitaan dan kesusahan, karena merekalah yang akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik.

Kualitas ketiga, pensil selalu memberikan kita kesempatan untuk mempergunakan penghapus, untuk memperbaiki kata-kata yang salah.

Oleh karena itu memperbaiki kesalahan kita dalam hidup ini, bukanlah hal yang jelek. Itu bisa membantu kita untuk tetap berada pada jalan yang benar.

Kualitas keempat, bagian yang paling penting dari sebuah pensil bukanlah bagian luarnya, melainkan arang yang ada di dalam sebuah pensil.

Oleh sebab itu, selalulah hati-hati dan menyadari hal-hal di dalam dirimu.

Kualitas kelima, sebuah pensil selalu meninggalkan tanda/goresan, seperti juga kamu, kamu harus sadar kalau apapun yang kamu perbuat dalam hidup ini akan meninggalkan kesan. Oleh karena itu selalulah hati-hati dan sadar terhadap semua tindakan.***


*) adaptasi dari: http://ikhwansuryalaya.wordpress.com/2009/10/20/anakku-jadilah-seperti-pensil/#more-919

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates