Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

Jumat, 06 Mei 2011

Jumat, 06 Mei 2011

Jangan Melihat dari Sudut Pandang Sempit


Penulis: Ust. Musyaffa Abdurrahim, Lc.*

Suatu hari seorang suami pulang kerja
Dan mendapati tiga orang anaknya sedang berada di depan rumah
Semuanya bermain lumpur, dan masih memakai pakaian tidur
Berarti semenjak bangun tidur, mereka belum mandi dan belum berganti pakaian.

Sang suami melangkah menuju rumah lebih jauh..

Ternyata .. kotak-kotak bekas bungkus makanan tersebar di mana-mana
Kertas-kertas bungkus dan plastic bertebaran tidak karuan
Dan … pintu rumah bagian depan dalam keadaan terbuka.

Begitu ia melewati pintu dan memasuki rumah …

masyaAllah … kacau … berantakan …

ada lampu yang pecah
ada sajjadah yang tertempel dengan permen karet di dinding
televisi dalam keadaan on dan dengan volume maksimal
boneka bertebaran di mana-mana
pakaian acak-acakan tidak karuan menyebar ke seluruh penjuru ruangan,

dapur? Ooooh tempat cucian piring penuh dengan piring kotor
sisa makanan pagi masih ada di atas meja makan
pintu kulkas terbuka lebar,

sang suami mencoba melihat lantai atas
ia langkahi boneka-boneka yang berserakan itu
ia injak-injak pula pakaian yang berserakan tersebut
maksudnya adalah hendak mendapatkan istrinya
siapa tahu ada masalah serius dengannya.

pertama sekali ia dikejutkan oleh air yang meluber dari kamar mandi
semua handuk berada di atas lantai dan basah kuyup
sabun telah berubah menjadi buih
tisu kamar mandi sudah tidak karuan rupa, bentuk dan tempatnya
cermin penuh dengan coretan-coretan odol,

dan....

begitu ia melompat ke kamar tidur...

ia dapati istrinya sedang tiduran sambil membaca komik!!!

Melihat kepanikan sang suami, sang istri memandang kepadanya dengan tersenyum.

Dengan penuh keheranan sang suami bertanya: “apa yang terjadi hari ini wahai istriku?!!”.

Sekali lagi sang istri tersenyum seraya berkata:

“Bukankah setiap kali pulang kerja engkau bertanya dengan penuh ketidakpuasan: ‘apa sih yang kamu kerjakan hari ini wahai istriku’, bukankah begitu wahai suamiku tersayang?!”

“Betul” jawab sang suami.

“Baik,” kata sang istri,

“hari ini, aku tidak melakukan apa yang biasanya aku lakukan”.
.......
.......
.......

MESSAGE yang ingin disampaikan adalah:

1. Penting sekali semua orang memahami, betapa orang lain mati-matian dalam menyelesaikan pekerjaannya, dan betapa besar pengorbanan yang telah dilakukan oleh orang lain itu agar kehidupan ini tetap berimbang, berimbang antara MENGAMBIL dan MEMBERI, TAKE and GIVE.

2. Dan … agar tidak ada yang mengira bahwa dialah satu-satunya orang yang habis-habisan dalam berkorban, menanggung derita, menghadapi kesulitan dan masalah serta menyelesaikannya.

3. Dan … jangan dikira bahwa orang-orang yang ada di sekelilingnya, yang tampaknya santai, diam, dan enak-enakan … jangan dikira bahwa mereka tidak mempunyai andil apa-apa.

4. Oleh karena itu, HARGAILAH JERIH PAYAH DAN KIPRAH ORANG LAIN dan JANGAN MELIHAT DARI SUDUT PANDANG YANG SEMPIT.
---
Ust. Musyaffa: "Terus terang apa yang saya postingkan ini, saya sendiri pun sedang berusaha untuk mentarbiyah diri dengannya."

*)sumber: email ustatdz Musyaffa

Kamis, 05 Mei 2011

Kamis, 05 Mei 2011

MENJEMPUT KESETIAAN
Oleh : Cahyadi Takariawan
www.cahyadi-takariawan.web.id
 
 
 
            Engkau aktif dalam kegiatan dakwah ? Engkau telah bekerja melakukan berbagai upaya menebarkan kebaikan di daerah ? Jika ya, maka mungkin engkau pernah mendengar ucapan-ucapan seperti ini, entah dari siapa.
“Luar biasa aktivitas anda membesarkan dakwah di daerah. Sayang sekali, senior anda yang di pusat justru mengkhianati perjuangan anda. Mereka telah mengejar harta, tahta dan wanita, dan melupakan tujuan perjuangan. Lalu, untuk apa anda tetap berpayah-payah di daerah?”
            “Sia-sia semua yang kalian kerjakan. Hasilnya dirampas oleh sebagian kecil elit di antara kalian. Apa kalian masih akan bertahan ?”
            “Lihatlah apa yang terjadi pada kalian. Setiap hari bertabur berita jelek di media. Itu menandakan aktivitas dakwah kalian sudah jauh menyimpang, karena kerakusan para pemimpin kalian. Mereka telah gila dunia dan melupakan akhirat”.
            Semua kata-kata itu keluar begitu saja dari mereka yang tidak mengerti makna ucapannya sendiri. Seakan-akan semua yang diucapkannya adalah kebenaran. Seakan-akan yang disampaikan adalah data dan fakta yang telah teruji kebenarannya, lalu semua yang mendengarkan diharapkan segera beriman. Seakan-akan semua yang mereka ungkapkan adalah dalil pembenaran untuk meninggalkan gelanggang perjuangan.
            Alkisah, seorang kader dakwah merasa tengah mengalami titik kejenuhan. Banyak beban dakwah dan beban kehidupan harus dihadapi sendiri. Ia mulai merenung, berpikir, dan akhirnya merasa semakin lemah. Aktivitas dakwah yang semula menumpuk setiap hari, perlahan mulai dikurangi. Dikumpulkannya “kata orang” tentang pemimpinnya. Dia belanja isu tentang kehidupan para pimpinan dakwah. Cukup banyak sudah isu dikumpulkan, semua semakin melemahkan semangat dakwahnya. Ia mulai menghitung ulang keterlibatannya dalam aktivitas dakwah, dan mempertimbangkan langkah mundur ke belakang.
            Di hadapanku ia curahkan semua isi hatinya. Sesak, gumpalan beban menghimpit dada dan hatinya. Lelah, penat, jenuh, kecewa, sedih, bercampur aduk.... Air matanya tumpah ruah saat bercerita tentang kepedihan hatinya. Aku merasakan bendungan perasaan itu ambrol, air bah kekecewaan mengalir sangat deras tidak terbendung. Dahsyat, luar biasa....
            Aku segera menceritakan makna ikhlas bagi kader yang berada di lapangan. Aku hanya kader lapangan, waktuku habis di jalan, bukan di kantoran. Aku tidak bisa menjelaskan dengan rangkaian teori yang “tinggi-tinggi”. Ilmuku adalah ilmu lapangan, ilmu aplikasi, berisi pengalaman dan akumulasi rekaman kejadian setiap hari. Teoriku adalah teori kehidupan, yang aku dapatkan langsung dari medan perjuangan. Merekam detail hikmah yang muncul dari perjalanan di sepanjang wilayah dakwah.
Saudaraku, aku ajak engkau melihat benih-benih yang kita semai di ladang-ladang dakwah di berbagai wilayah. Subhanallah, benih itu tumbuh subur menghijau, membuat takjub siapapun yang melihat dan merasakan detak pertumbuhannya. Kita sirami benih itu, dan kita rawat dengan sepenuh cinta dan kasih sayang. Perasaan lelah dan jenuh menghadapi berbagai kendala, segera hilang sirna dengan sempurna, saat menyaksikan hasil semaian di ladang-ladang dakwah kita.
            Rasa jenuh dan lelah bisa hinggap pada hati dan pikiran siapa saja. Pekerjaan rutin sehari-hari membuat kita mudah mengalami kejenuhan, apalagi jika yang dihadapi hanya koran, berita televisi, internet dan kata orang. Dunia disempitkan oleh media, bukan diluaskannya. Lalu apa yang menyemangati kita ? Mari berjalan menikmati hijaunya lahan-lahan semaian dakwah yang telah kita rawat lebih dari dua puluh tahun lamanya. Berjalan, bertemu kader-kader dakwah di setiap daerah, menyapa dan membersamai aktivitas mereka. Subhanallah, lihat wajah-wajah cerah yang tampak di setiap pertemuan.
            Di sebuah mushalla kecil di kecamatan Piyungan, Bantul, Yogyakarta, aku merasakan optimisme dan membuncahnya harapan. Di sebuah ruang sederhana di Gendeng, Baciro, Kota Jogja, aku menjadi saksi kesetiaan tanpa jeda. Di sebuah gedung pertemuan di Masamba, Luwu Utara, Sulawesi Selatan, aku merasakan detak jantung penuh cinta. Di sebuah ruangan di Baubau, Sulawesi Tenggara, aku merasakan getar kesadaran akan kemenangan. Di sepanjang bumi Sumatera aku melihat dan merasakan pancaran semangat yang membara. Di berbagai belahan Kalimantan aku mendapatkan suasana gelegak kehangatan tak terkalahkan. Di Nusa Tenggara Barat, yang muncul hanyalah optimisme menghadapi medan perjuangan. Di Maluku, kepal tangan yang terangkat kuat menandakan tak akan menyerah menghadapi kendala dakwah. Di Papua, minoritas bukanlah alasan untuk merasa lemah dan kalah.
            Lalu apa yang melemahkanmu, saudaraku ? Berjalanlah, dan semua wilayah ini adalah bumi dakwah, tempat kita menyemai cinta. Bergeraklah, dan semua daerah ini adalah bumi perjuangan, tempat kita menanamkan harapan. Dimanapun engkau berjalan, dimanapun engkau bergerak, akan merasakan kesegaran udara yang sangat jernih. Tak ada polusi di sana, polusi itu justru ada di sini, di tulisan ini. Tulisan yang tak mampu menggambarkan betapa besar sesungguhnya ukuran cinta dan harapan yang ada pada dada para kader di sepanjang wilayah dakwah. Tulisan yang saya khawatirkan justru menyempitkan makna kesetiaan dan keikhlasan setiap titik perjuangan kader di seluruh bumi Allah.
            Maka bergeraklah, berjalanlah, beraktivitaslah bersama kafilah dakwah. Rasakan sendiri, lihat sendiri, dengarkan sendiri kata-kata mutiara yang muncul dari lapangan. Diam telah membuatmu merasakan kejenuhan. Tidak bergerak menyebabkan pikiranmu dipenuhi pesimisme dan kegalauan. Tidak berkegiatan membuat hatimu selalu dalam kebimbangan dan keputusasaan. Bergeraklah di lapangan dakwah, engkau akan menemukan sangat banyak harapan dan untaian mutiara kesabaran.
            Jadi, apa yang melemahkanmu, saudaraku ? Lihat sendiri, dengan mata kepalamu sendiri, bagaimana wajah-wajah penuh kecintaan akan selalu engkau dapatkan. Kemanapun engkau pergi, yang engkau temui adalah benih-benih tersemai dengan pupuk keimanan dan keutamaan. Kemanapun engkau melangkah, yang engkau dapatkan adalah buah-buah yang terawat oleh cinta dan kasih sayang para pembina. Para pembina telah mencurahkan cinta, telah menorehkan kasih, telah memahatkan sayang di hati sanubari semua benih dakwah di sepanjang daerah.
Bisakah engkau menanamkan bibit-bibit kebencian, kemarahan, dendam dan kesumat, lalu menyuburkannya hanya dengan pupuk isu serta gosip sepanjang masa? Bisakah engkau menciptakan lahan-lahan yang akan tersuburkan dengan fitnah, caci maki dan sumpah serapah ? Siapa yang akan bisa memberikan cinta, jika yang engkau keluarkan untuk mereka adalah dendam membara ? Siapa yang akan memberikan kesetiaan, jika yang engkau tanam adalah benih-benih permusuhan ? Siapa yang akan memberikan ketulusan, jika yang engkau taburkan adalah kebencian ?
Jadi, apa yang menggelisahkanmu saudaraku ? Seorang kader dakwah di Paniai, Papua, menitipkan pesan penting saat aku kesana. “Yang sangat kami perlukan adalah kehadiran para Pembina. Kami sangat optimis dengan medan dakwah di sini”. Subhanallah, seperti terbawa mimpi. Paniai bahkan tidak engkau kenal wilayahnya ada dimana. Engkau tidak mengetahui bahwa di tempat yang sangat jauh dari keramaian kota itu ada banyak harapan untuk kebaikan. Benar kan, di sana tidak ada polusi? Karena polusi itu ada di sini, di tulisan ini. Tulisan yang tak mampu merangkum kuatnya kecintaan dan tulusnya harapan dari kader-kader di daerah.
Di sebuah ruang sederhana, di Wamena, Papua, aku mendapatkan dan merasakan gelora semangat yang sedemikian membahana. Demikian pula di Merauke. Sekelompok kader telah bekerja melakukan apa yang mereka bisa, dan ternyata lahan-lahan kering itu sedemikian suburnya. Tak dinyana, semula kita membayangkan akan kesulitan menanam benih di lahan yang teramat kering kehitaman. Namun taburan benih tak ada yang sia-sia. Semangat demikian tinggi mengharap kehadiran kita untuk menyaksikan pertumbuhan, karena benih telah dirawat dan dipelihara dengan sepenuh jiwa.
Di sebuah pojok ruang di Manokwari, Irian Jaya Barat, tak kalah semangat menjalani aktivitas perjuangan. Beberapa gelintir generasi dakwah, telah menanamkan benih-benih di berbagai wilayah. Siapa menyangka ternyata kecintaan dan kesetiaan yang tulus dimiliki oleh mereka yang tinggal jauh di ujung Indonesia. Genggaman tangan sangat kuat dan hangat masih aku rasakan, seakan tak mau melepaskan. Bahkan mereka menghantarkan aku hingga di depan tangga pesawat terbang. Kisah-kisah heroik aku dapatkan selama menemani mereka menyemai benih di bumi Irian Jaya Barat. Insyaallah pahala berlipat telah Allah limpahkan untuk mereka.
Jadi, hal apa lagi yang meresahkanmu, saudaraku ? Pernahkah engkau mendengar Polewali, Majene, Mamuju dan Mamasa ? Mungkin engkau belum pernah mencarinya di dalam peta. Itu nama-nama kabupaten yang ada di Sulawesi Barat, propinsi yang terbentuk setelah dimekarkan dari Sulawesi Selatan. Aku telah melawat berhari-hari lamanya, menemukan bongkahan semangat yang sangat potensial. Sangat banyak luapan energi yang siap untuk mencerahkan wilayahnya. Mereka menjemput kesetiaan dengan melakukan sangat banyak kegiatan, di tengah berbagai keterbatasan yang mereka hadapi.
Aku juga mengunjungi dan menyapa kader-kader di Mataram, Lombok, Sumbawa, Dompu dan Bima. Luar biasa semangat kader-kader dakwah di sana. Di sudut-sudut ruangan, aku menemukan kenyataan cinta itu hidup segar, bersemi indah dan terawat dengan cermat. Tangan-tangan halus para pembina telah membentuk karakter yang kuat pada para aktivis dakwah, sehingga mereka terus menerus bekerja tanpa mengenal lelah, padahal tidak ada yang memberi upah. Hanya Allah yang menjadi tumpuan harapan kerja mereka. Luar biasa.
Di sepanjang ruas jalan yang aku lalui di Balikpapan, Samarinda, Kutai Timur, Kutai Kertanegara, Penajam, Berau, yang terhirup adalah udara jernih, bukti kemurnian tujuan perjuangan. Demikian pula saat aku menapaki Banda Aceh, Pidie, Lhokseumawe, Langsa, Meulaboh, yang terasakan hanyalah semangat berkontribusi tanpa henti. Para kader telah bertahan di medan perjuangan dengan segenap kecintaan dan harapan. Tak ada polusi di sana, karena polusi itu adanya di sini. Di tulisan ini. Tulisan yang tak mampu mengkabarkan dengan tepat betapa keutuhan dan ketulusan langkah perjuangan kader-kader dakwah di sepanjang wilayah. Sepanjang mata memandang, yang tampak adalah dinamika berkegiatan, berlomba melakukan hal terbaik yang bisa mereka lakukan, berlomba mencetak prestasi dan karya besar bagi bangsa dan negara.
            Maka, apa yang meragukanmu, saudaraku ? Suara-suara itu, tuduhan-tuduhan itu, kata-kata itu ? Aku bukan seseorang yang berwenang menjelaskan. Maka aku tak mau mendengarkannya, karena sama sekali tidak ada artinya bagiku. Aku hanyalah seorang kader lapangan. Waktuku habis di jalan, bukan di kantoran. Aku merasakan gairah pertumbuhan, aku mendengarkan degup jantung penuh kecintaan, aku mencium harum aroma kemenangan, aku melihat gurat keteguhan, aku menikmati cita rasa kesetiaan. Aku menjadi saksi betapa suburnya cinta dan kesetiaan kader di sepanjang jalan dakwah, di sepanjang bumi Allah.
            Waktu, tenaga, pikiran, harta benda bahkan jiwa telah mereka sumbangkan dengan sepenuh kesadaran. Tidak ada yang terbayang dalam benak mereka, kecuali upaya memberikan yang terbaik bagi perjuangan. Berbagai kekurangan dan kelemahan mereka miliki, namun tidak menyurutkan semangat dan memadamkan gairah yang menggelora di dada. Mereka yakin akan janji-janji Ketuhanan, bahwa kemenangan itu dekat waktunya. Mereka menjemput kesetiaan dengan selalu bergerak, berbuat, beraktivitas di lapangan. Bukan duduk diam menunggu sesuatu, atau melamunkan sesuatu.
            Suara-suara itu, tuduhan-tuduhan itu, caci maki itu, apakah masih ada artinya jika engkau telah menghirup nafas dari udara yang sangat jernih di wilayah dakwah ? Apakah masih membuatmu gelisah jika tubuhmu telah basah oleh keringat dari perjalanan panjang yang sangat menyenangkan di berbagai daerah ? Apakah masih membuatmu ragu jika matamu telah memandang kehijauan lahan-lahan yang kita semai di sepanjang bumi Allah ? Apakah masih membuatmu gundah jika hatimu telah bertaut dengan aktivitas kader-kader dakwah yang menjemput kesetiaan dengan bertahan di medan-medan perjuangan ?
            Sungguh, aku menjadi saksi kesetiaan mereka di sepanjang jalan dakwah. Aku menjadi saksi hasrat dan kecintaan mereka yang sedemikian besar kepada perjuangan dakwah. Aku juga berharap, kader-kader di daerah mengerti betapa besar cinta kami kepada lahan-lahan yang tumbuh bersemi. Aku selalu memohon perlindungan dan kekuatan kepada Allah, semoga Allah selalu melindungi dan menjaga dakwah dan para qiyadah. Aku selalu memohon kepada Allah, agar semangat dan gairah dakwah tidak pernah melemah. Ya Allah, beritahukan kepada kader-kader yang setia berjaga di garis kesadaran dan harapan, betapa besar cinta kami kepada mereka. Ya Allah sampaikan kepada para kader yang telah bekerja sepenuh jiwa, betapa hati kami selalu tertambat kepada mereka.
            Beritahukan ya Allah, cinta kami sangat tulus untuk mereka. Selamanya.
Selamanya !
 
 
 
Pancoran Barat, 3 Mei 2011

Selasa, 03 Mei 2011

Selasa, 03 Mei 2011

Surat Cinta Buat Hati Yang Lesu


 
 
Surat ini kutujukan untuk diriku sendiri serta saudara-saudaraku yang Insya Allah tetap mencintai Allah swt dan Rasul-Nya di atas segala-galanya. Kerana hanya cinta itulah yang dapat mengalahkan segalanya, cinta hakiki yang membuat manusia melihat segalanya dari sudut pandang yang berbeza, lebih bermakna dan indah.
sholat1Surat ini kutujukan pula untuk jiwaku serta jiwa saudara-saudaraku yang mulai lelah menapaki jalan-Nya, ketika seringkali mengeluh, merasa terbebani bahkan terpaksa untuk menjalankan amanah dakwah yang sangat mulia. Padahal tiada kesakitan, kelelahan, serta kepayahan yang dirasakan oleh seorang hamba melainkan Allah swt akan mengampuni dosa-dosanya dan memberinya ganjaran dengan sebaik-baik ganjaran.

Surat ini kutujukan untuk hatiku dan hati saudara-saudaraku yang kerap kali terisi oleh cinta selain-Nya, yang mudah sekali terlena oleh indahnya dunia, yang terkadang melakukan segalanya bukan kerana-Nya. Lalu di ruang hatinya yang kelam merasa senang jika dilihat dan dipuji orang lain, entah dimana keikhlasan. Maka saat ini kurasakan kekecewaan dan kelelahan kerana kulakukan tidak sepenuhnya berlandaskan keikhlasan, padahal Allah tidak pernah menanyakan hasil. Dia hanya akan melihat kesungguhan dalam berproses dan dalam berusaha.

Surat ini kutujukan untuk ruh-ku dan ruh saudara-saudaraku yang mulai terkikis oleh dunia yang menipu, serta membiarkan fitrahnya tertutup oleh maksiat yang membiarkannya untuk dinikmati. Lalu dimanakah kejujuran diletakkan ? , dan kini terabaikan sudah secara nurani yang bersih, saat ibadah hanya rutin semata, saat fizikal dan fikiran disibukkan oleh dunia, saat wajah menampakkan kebahagiaan yang tepu. Cubalah sejenak luangkan waktu untuk  melihat hatimu menangis, tertawa, atau merana.

Surat ini kutujukan untuk diriku dan saudara-saudaraku yang sombong, yang terkadang bangga pada dirinya sendiri, sungguh tiada satupun yang membuat kita lelah di hadapan-Nya, selain ketaqwaan. Padahal kita menyedari bahawa tiap-tiap jiwa akan merasakan mati namun kita masih leka dengan kefanaan.

Surat ini kutujukan untuk hatiku dan hati saudara-saudaraku yang mulai mati, saat tiada getar penyesalan ketika kebaikan terlewat begitu saja, saat tiada rasa berdosa ketika menzalimi diri dan saudaranya.

Akhirnya, surat ini kutujukan untuk jiwa yang masih memiliki cahaya meskipun sedikit, cubalah kau jaga agar cahaya itu tidak padam. Maka terus kumpulkan cahaya itu hingga ia dapat menerangi wajah-wajah di sekelilingnya, memberikan keindahan Islam yang sesungguhnya. Hanya dengan kekuatan dari-Nya. Ya Allah saksikanlah, sesungguhnya aku telah menyampaikan. Wallahu ’alam bish-shawab.

Semoga tetap istiqamah di jalan-Nya. Sungguh, syurga takkan pernah pantas ditukar dengan lalai dan kemalasan.

Dari Saudaramu yang mencintaimu kerana Allah ...
Ibnu Sa'id Al Faqir

Memahami Erti Pengorbanan


Anak-anakku yang sentiasa diberkati Allah!
Pertamanya marilah kita mengucapkan rasa kesyukukuran kepada Allah Yang Maha Esa. KepadaNyalah bergantung segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan. Dan tidak seorang pun yang setara dengannya. Segala apa jua nikmat kita peroleh dari Allah. 623802736_067246fb82Maka bagi Allah segala pujian dan syukur. Berlindunglah kepada Allah daripada menyengutukannya dengan sesuatu yang kalian tahu maupun dari satu yang tidak diketahui. Sentiasalah menyedari hakikat diri kalian sebagai hamba Allah. Bertasbihlah di waktu pagi dan petang dan cukuplah Allah sebagai penolong serta pelindung kalian. Hanya kepadaNya kalian patut bertawakal dan Dia adalah tuhan yang memiliki 'arasy yang agung.

Anak-anakku yang sedang memburu kajayaan!
Keyakinan kepada Allah begini akan membina kekuatan luar biasa yang memampukan kalian menjadi sebaik-baik manusia yang membawa kebaikan kepada manusia lainserta mampu pula menepati sabda Rasulullah SAW,
"Sebaik-baik manusia adalah mereka yang apabila melakukan sesuatu pekerjaan, mereka melakukannya dengan cara yang baik".
Hakikat ini jugalah yang akan meletakkan kalian mampu merebut keredhaan Allah serta mampu pula melakukan apa jua bentukpengorbanan yang membawa manfaat kepada manusia seluruhnya. Untuk melihat apa yang ingin ummi jelaskan kepada kalian, singkaplah kisah pengorbanan Nabi Ibrahim a.s sekeluarga.
Di awal-awal kebahagiaan serta keindahan hidup berkeluarga Nabi Ibrahim a.s serta isterinya, Siti Hajar sudahpun Allah uji. Ujian di sisi Allah itu bukanlah satu bencana, tetapi adalah satu bentuk pengorbanan yang besar yang membawa rahmat kepada seluruh alam.
Waktu itu, keadaan sangat menyedihkan, cukup susah dan perit. Seorang suami juga ayah yang penyayang terpaksa meninggalkan anaknya yang masih menyusu di negeri yang tandus tanahnya. Cuma, yang ada bersama-sama Hajar hanya sebuah karung kecil berisi sedikit tamar dan air. Ikutilah betapa pilu kata-kata yang diungkapkan.
Siti Hajar :"Apakah Allah memerintahkan perkara ini wahai Ibrahim?"
Ibrahim :"Ya,benar."
Siti Hajar :"Sekiranya ini perintah Allah, maka tentulah Dia tidak akan mensia-siakan kita."
Kalau bukan kerana iman serta tawakkal yang mendalam, tidaklah mampu Nabi Ibrahim a.s memenuhi perintah Allah. Nabi Ibrahim a.s meneruskan semula perjalanannya sehingga apabila beliau tiba di Tsaniyah, suatu tempat di Makkah yang terlindung dari pandangan Siti Hajar, baginda menadah tangan dan berdoa,
"Wahai Tuhanku! Sesungguhnya aku menempatkan daripada keturunanku di lembah yang tiada tanam-tanaman, berhampiran dengan rumahmu yang disucikan. Tuhanku! Jagalah mereka supaya mereka mengerjakan sembahyang, sebab itu jadikanlah hati manusia tertarik kepada mereka, dan kurniakanlah mereka rezeki daripada buah-buahan, moga-moga mereka berterima kasih." (Ibrahim:37)
Anak-anakku yang bertaqwa!
Kesedaran iman seperti yang berlangsung dalam keluarga Nabi Ibrahim a.s itu telah menghasilkan pengorbanan yang ajaib dalam kehidupan muslim hingga akhir zaman. Setiap jamaah haji dan umrah yang datang ke Baitullah sepanjang masa sentiasa marasai kesan pengorbanan itu yang menginsafkan.
Kisah ini juga membuktikan iman yang mendalam pemiliknya mentaati perintah Allah dalam keadaan tersembunyi maupun terang-terangan. Begitulah juyang ummi harapkan daripada kalian. Semoga menjadi insan bertaqwa yang mampu berkorban untuk kemakmuran umat.
Anak-anakku marilah kita sudahi dengan do'a,
"Ya Allah! Engkau adalah Tuhanku, Tidak ada Tuhan selain Engkau. Engkau yang mencipta kami dan kami abdiMu. Kami berlindung kepadamu daripada kejahatan apa-apa yang telah kami lakukan. Kami mengakui segala nikmatMu dan kami mengakui dosa-dosa kami. Ampunilah kami kerana tidak ada yang boleh mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau."

Wassalam,

Bagaimana Rasulullah SAW Mentarbiyah Remaja?


childmusDari Abu Abbas, Abdullah bin Abbas r.a : Bahawa pada suatu hari saya sedang berada di belakang Rasulullah SAW (di atas binatang tunggangannya) , lalu sabda baginda : ' Wahai anak kecil, sesungguhnya aku telah mengajar kamu beberapa perkataan.
Peliharalah (perintah) Allah, nescaya Dia akan memelihara kamu, peliharalah (kehormatan) Allah, nescaya engkau akan merasakan Dia berada bersama-samamu. Jika engkau memohon, pohonlah kepada Allah semata-mata. Jika engkau meminta pertolongan mintalah kepada Allah semata-mata. Ketahuilah bahawa jika semua umat manusia berkumpul untuk memberikan kepadamu sesuatu menafaat, nescaya mereka tidak akan mampu memberi menafaat itu, melainkan dengan sesuatu yang telah ditaqdirkan oleh Allah. Begitu juga sekiranya mereka berkumpul untuk menentukan suatu mudharat untuk kamu, nescaya mereka tidak akan mampu menentukannya, melainkan dengan suatu yang telah ditentukan Allah ke atas kamu. Telah diangkat kalam ( tulisan ) dan telah kering ( tinta ) buku catitan. ' (HR. Turmuzi dan dia berkata : Haditsnya hasan shahih).

Pengajaran:

1. Untuk Ibn Abbas, sejak kecil Rasulullah SAW telah berdoa untuknya - "Ya Allah berikanlah kepadanya pemahaman tentang din, dan ajarkanlah kepada hikmah". Apabila beliau di peringkat remaja, baginda bermusafir bersama-samanya dan terus mengambil peluang mentarbiyahnya.
2. Baginda memanfaatkan setiap detik masa, hatta sewaktu bermusafir pun baginda mentarbiyah mad'unya yang masih remaja. Baginda tidak merasa enteng terhadap mad'u kecil, bahkan baginda mengambil hal ehwal tarbiyahnya.
3. Baginda sentiasa bersemangat untuk mentarbiyah mad'unya, sehinggakan sewaktu penat bermusafir pun baginda tidak melepaskan peluang untuk mentarbiyah.
4. Baginda, seorang ketua negara yang agung dan manusia paling mulia, tidak merasa terhina menaiki kenderaan bersama remaja kecil. Baginda memperlihatkan contoh KEDEKATAN FIZIKAL dan kemesraan dengan anak remaja. Baginda tiada "generation gap" dengan orang muda.
5. Baginda mentarbiyah orang muda dengan silibus yang berpada, ringan tetapi berterusan - sepertimana kata baginda - "aku ingin mengajar kamu BEBERAPA PERKATAAN".
6. Baginda sentiasa meletakkan asas tauhid sebagai asas tarbiyah generasi muda.
7. Generasi muda yang sering gelisah dan sering dilanda pelbagai ketidaktentuan, baginda berpesan supaya bergantung dan memohon pertolongan kepada Allah.
8. Hakikatnya, baginda merencanakan tarbiyah jangka panjang untuk Ibn Abbas. Akhirnya lahirlah Ibn Abbas sebagai tokoh, pejuang dan pewaris risalah baginda.
Susunan: Ustaz Abdullah Thaidi Hasan (Mudir SMIK)

Awas Jangan Tertipu Dengan Amal Sendiri


Imam al-Ghazali mengatakan ada manusia yang tertipu oleh keadaan, ilmu, dan amal yang dilakukannya. Mereka yang tertipu bukan hanya orang abid (banyak ibadah), tetapi termasuk orang yang alim (berilmu).
ibadahPertama, orang yang mempelajari ilmu agama dan ilmu lain, tetapi ia tidak mengamalkan ilmunya. Ilmu tidak mendekatkan dirinya kepada Allah, menjauhkannya dari yang haram, dan membentuknya berakhlak mulia. Ilmu yang dimiliki orang tersebut tidak berharga kerana tidak membuahkan amalan yang baik. Pemilik ilmu ini termasuk orang pertama dan paling berat mendapat azab Allah di akhirat. Nabi bersabda,

‘’Orang yang paling berat mendapat azab Allah adalah orang yang alim (berilmu), tetapi Allah tidak memberikan manfaat kepadanya melalui ilmunya. Ia salah seorang dari tiga golongan orang yang dikabarkan Nabi yang pertama merasakan azab api neraka.'’ (Al-Hadis).

Kedua, orang yang banyak beribadah dan berupaya memberatkan diri melakukan amalan lahir, seperti memperbanyak solat sunat dan puasa sunat. Namun, ia mengabaikan penelitian terhadap hati dan menyucikan hatinya dari berbagai penyakit batiniah, seperti iri, dengki, riya, dan sombong. Penyakit batiniah bukan hanya membuat amalnya tidak bernilai, tetapi juga merosak dirinya. Sesungguhnya Islam ingin mewujudkan keseimbangan antara amalan lahir dan batin, ibadah yang banyak dan berkualiti serta kesucian hati. Nabi bersabda,
‘’Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk rupamu dan harta yang kamu miliki, tetapi Ia melihat kepada hati dan amalmu.'’ (Al-Hadis).

Ketiga, orang yang beribadah kepada Allah dengan penuh kehati-hatian, tetapi sikapnya tersebut sampai pada batas menyulitkan dirinya. Sikap hati-hati memang dianjurkan Islam, tetapi tidak boleh sampai menyulitkan. Sebab, Allah menginginkan kemudahan kepada umatnya dalam pelaksanaan Islam, seperti firman-Nya,
‘’Allah menginginkan kemudahan kepadamu, dan Ia tidak menginginkan kesulitan terhadapmu.'’ (QS 2: 185).

Kehati-hatian yang berlebihan tampak pada orang yang dihinggapi rasa waswas oleh godaan syaitan ketika berwudhu. Orang itu berkumur-kumur berulang kali dan menggosok dengan keras ketika air wudhu mengenai kulitnya. Orang yang berwudhu seperti ini tertipu oleh amalnya kerana Islam tidak menuntut seperti itu. Yang penting basuhan air wudhu cukup apabila telah membasahi anggota wudhu
Alangkah baik kehati-hatian yang berlebihan ketika berwudhu dipakai dalam mencari rezeki halal. Dalam Islam mencari rezeki halal mempunyai kedudukan yang penting. Mencari rezeki yang halal untuk menyara kehidupan turut menentukan keberkahan hidup Muslim. Dan, pengabulan doa hamba oleh Allah terkait erat dengan kebersihan rezeki yang dicarinya. Nabi bersabda,
‘’Seorang laki-laki yang telah jauh perjalanannya, berambut kusut, penuh dengan debu, dia menadahkan kedua tangannya ke langit dan berkata, ‘Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku,’ sedangkan makanan, minuman, dan pakaiannya haram, serta dikenyangkan dengan barang haram, maka bagaimana akan dikabulkan permintaannya (doanya).'’ (HR Muslim).
Semoga dengan ini kita dapat lebih berhati-hati dalam beramal soleh, antara ilmu dan amal haruslah seimbang. Jika kita ingin mengerjakan amal soleh tetapi belum tahu ilmunya lebih baik menanyakan kepada yg lebih tahu (Ahlinya).

Apakah Ikhlas Itu?



duniaApakah ikhlas itu? Orang yang ikhlas adalah orang yang tidak menyertakan kepentingan peribadi atau imbuhan duniawi dari apa yang dapat dia lakukan. Konsentrasi orang yang ikhlas cuma satu, iaitu bagaimana agar apa yang dilakukannya diterima oleh Allah swt. Misalnya ketika kita sedang memasukan wang ke dalam kotak infaq, maka fokus fikiran kita tidak ke kiri dan ke kanan, tapi fikiran kita terfokus bagaimana agar wang yang dinafkahkan itu diterima di sisi Allah. Tatkala kita berusaha untuk mendakwahi seseorang di tempat kita berada, kita fokuskan bahawa kita mengajak mereka kepada Allah, bukan untuk mencari pengaruh, mencari “ahli baru” atau mencari populariti.
Apapun yang dilakukan kalau konsentrasi kita hanya kepada Allah, itulah ikhlas. Seperti yang dikatakan oleh Saidina Ali, bahawa orang yang ikhlas adalah orang yang memusatkan fikirannya agar setiap amalnya diterima oleh Allah. Contohnya, jika berada di masjid untuk menunaikan solat tetapi pusat pemikirannya ”songsang”, agar orang mengatakan dia orang yang baik dan ”kaki masjid, maka hadirnya ke masjid tidak bernilai di hadapan Allah, tidak bernilai! Ingat lagi kisah muhasabah bersama 3 orang ”besar”, kisah yang akan menyebabkan kita memikir panjang mengkoreksi diri setiap amal yang telah kita lakukan.
Seorang pembicara yang ikhlas tidak perlu merekacipta kata-kata agar penuh pesona, tapi dia akan mengupayakan setiap kata yang diucapkan benar-benar menjadi kata yang disukai oleh Allah. Boleh dipertanggungjawabkan kebenarannya. Boleh dipertanggungjawabkan setiap katanya. Selebihnya terserah Allah. Kalau ikhlas walaupun sederhana kata-kata kita, Allah-lah yang kuasa menghujamkannya kepada setiap qalbu.
Buah apa yang didapat dari seorang hamba yang ikhlas itu? Seorang hamba yang ikhlas akan merasakan ketenteraman jiwa, ketenangan batin. Betapa tidak? Justeru dia tidak menjadi hamba penantian untuk mendapatkan pujian, penghargaan, dan imbuhan. Kita tahu bahawa penantian adalah suatu hal yang tidak menyenangkan. Begitu juga menunggu diberi pujian. Lebih lagi kalau yang kita lakukan ternyata tidak dipuji, pasti kita akan kecewa.
Namun bagi seorang hamba yang ikhlas, dia tidak akan pernah mengharapkan apapun dari siapapun, kerana kenikmatan baginya bukan dari mendapatkan, tapi dari apa yang boleh dipersembahkan atau diberikan kepada orang lain. Orang yang tidak ikhlas akan banyak tersinggung dan dikecewakan kerana dia memang terlalu banyak berharap.
Lalu, dimanakah letak kekuatan hamba-hamba Allah yang ikhlas? Seorang hamba yang ikhlas akan memiliki kekuatan ruhiyah yang besar. Ia seakan-akan menjadi pancaran energi yang melimpah. Keikhlasan seorang hamba Allah dapat dilihat pula dari raut muka, tutur kata, serta gerak-gerik perilakunya. Kita akan merasa aman bergaul dengan orang yang ikhlas. Kita tidak curiga akan ditipu, kita tidak curiga akan diadu domba olehnya. Setiap tumpahan kata-kata dan perilakunya tidak ada yang tersembunyi. Semua itu dia lakukan tanpa mengharap apapun dari orang yang dihadapinya, yang ia harapkan hanyalah memberikan yang terbaik untuk siapapun.
Sungguh akan nikmat bila bergaul dengan seorang hamba yang ikhlas. Setiap kata-katanya tidak akan bagai pisau yang akan menghiris hati. Perilakunya pun tidak akan menyempitkan diri. Tidak usah hairan jikalau orang ikhlas itu punya daya gugah dan daya ubah yang begitu dahsyat. Hidupnya penuh dengan agenda memberi kepada umat, ”khadimul ummah”. Hatta setiap amal yang dilakukannya tangan kirinya tidak langsung mengetahuinya. Luarbiasa!
Semoga kita dapat memelihara keikhlasan dalam setiap amal dan tindakan kerana dunia mendambakan hamba Allah yang ikhlas yang dapat mendasyatkan kembali muka bumi ini dengan barisan duah mukhlisin.

Sumber: http://www.haluantarbawi.com/v2/

Satu Hari Satu Juz






Oleh Salman Syarifudin, MA

Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abdullah bin Amru bin ‘Ash, ia mengatakan bahwa Rasulullah Saw bersabda, ”Bacalah Al-Qur’an dan khatamkan dalam sebulan.”

Aku berkata, ”Aku masih kuat untuk lebih cepat.”

Beliau bersabda, ”Bacalah dan khatamkan dalam sepuluh hari.”

Aku berkata lagi, “Tetapi aku masih kuat untuk membaca lebih cepat.”

Beliau bersabda, “Bacalah dan khatamkan dalam tujuh hari dan jangan lebih cepat dari itu.”

Pada riwayat lain (dari hadits riwayat Abu Daud) disebutkan ketika Abdullah bin Amru berkata, “Sesungguhnya aku bisa lebih kuat dari itu” maka Rasulullah Saw bersabda, “Bacalah olehmu pada tiga hari”…

Dialog antara Abdullah bin Amru bin ‘ash dengan Rasulullah Saw diatas bisa kita ambil beberapa pelajaran tarbawi, diantaranya:

1. Rasulullah Saw mengajarkan Abdullah bin Amru bin ‘Ash untuk khatam Al-Qur’an 1 bulan sekali. Jika ingin lebih cepat, tidak kurang dari 3 hari.

2. Adanya suasana berlomba-lomba untuk mendapatkan pahala yang melimpah ruah melalui ibadah tilawah Al-Qur’an.

3. Abdullah bin Amru bin Ash memilih ‘azimah bukan rukhshah.

4. Dialog diatas menunjukkan antusias sahabat dalam interaksi dengan Al-Qur’an.

5. Lingkungan Qur’ani memotivasi seseorang untuk berkompetisi dalam ibadah.

Membaca Al-Qur’an secara berkesinambungan dan terus menerus merupakan bukti keimanan terhadap Al-Qur’an. Allah berfirman:

“Orang-orang yang telah kami berikan kepada mereka Al-Kitab, mereka membacanya dengan sebaik-baik bacaan. Merekalah orang-orang yang beriman kepadanya. Maka barangsiapa yang berpaling maka merekalah orang yang merugi.( Q.S.2.121)

Ikhwah fillah. Mari kita renungkan ungkapan Imam Syahid Hasan al-Banna tentang kewajiban seorang “al-akh”:

Usahakan agar anda memiliki wirid harian yang diambil dari kitabullah minimal satu juz/hari dan berusahalah agar jangan mengkhatamkan Al-Qur’an lebih dari sebulan dan jangan kurang dari tiga hari.

Al-Qur’an bekal utama tarbiyah

Keislaman kita hendaknya mampu membentuk komitmen dalam tilawah, lebih dari sekedar membaca, melainkan memahami, mentadabburi, menghafal, mendakwahkan dan mengamalkannya dalam kehidupan kita sehari-hari. Menjaga intensitas ta’abbud kepada Allah sehingga menjadi sebuah proses pembekalan yang berkesinambungan. Bagaimana jika proses perbekalan (tazwid) ini tertinggal selama sepekan, dua pekan, atau bahkan lebih?

Tarbiyah adalah proses perjalanan madal hayah (sepanjang hayat dikandung badan). Membina diri dengan Al-Qur-an dan berbekal dengannya adalah suatu keniscayaan, karena sumber kebenaran itu ada pada Al-Qur-an. Apalagi jika kita berkomitmen untuk menegakkan islam di bumi Allah ini, maka hendaknya kita menjadi batu-bata yang kokoh dalam bangunan islam dengan tilawah Al-Qur’an.

Jika tarbiyah qur`aniyah kita telah matang, kita pasti akan dapat merasakan bahwa sentuhan tarbawi surat Al-Baqarah berbeda dengan Ali-Imran. Begitu pula dengan surat-surat yang lainnya. Boleh jadi ketika seseorang sedang membaca surat An-Nisa, ia merindukan surat Al-Ma`idah. Itulah suasana tarbiyah yang belum kita rasakan dan harus dengan serius kita bangun dalam diri kita. Sungguh, Al Qur-an adalah sarana tarbiyah terbaik bagi diri dan kehidupan kita, sarana membina diri, karena di dalamnya ketika lembar demi lembar kita buka dan kita baca sekaligus kita maknai, maka kita akan merasakan suatu keunikan tersendiri dari Al Qur-an.

Bayangkan dengan diri kita yang sering menganggap tilawah satu juz itu sebagai sesuatu yang maksimal ! Maka tugas yang sangat minimal inipun sangat sering terkurangi, bahkan tidak teramalkan dengan baik. Bagaimana mungkin kita dapat mengulang kesuksesan para sahabat dalam membangun Islam ini, jika kita tidak melakukan apa yang telah mereka lakukan (walaupun kita sadar bahwa ibadah satu juz ini bukan satu-satunya usaha di dalam berdakwah) ?

Sebutlah Utsman Ibn Affan, Abdullah Ibn Amr Ibn Ash, Abu Hanifah dan Imam Asy-Syafi’i Radiyallahu Anhum. Mereka adalah contoh orang-orang yang terbiasa menyelesaikan bacaan Al-Qur’an dalam waktu tiga hari sampai satu pekan. Karena bagi mereka khatam sebulan terlalu lama untuk bertemu dengan ayat-ayat Allah.

Mengapa 1 juz perhari

a. Menyikapi apa yang disabdakan Rasulullah saw, “Bacalah Al Qur-an dalam satu bulan!”

b. Tilawah satu juz perhari merupakan mentalitas `ubudiyah, disiplin, dan akan menambah tsaqofah

c. Jika seseorang rutin setiap bulan khatam, berarti hanya sekali dalam sebulan ia bertemu dengan surat Al-Baqarah. Dapat kita bayangkan seandainya kita berlama-lama dalam mengkhatamkan Al-Qur’an, berarti kita akan sangat jarang bertemu dengan setiap surat dari Al-Qur’an.

Faktor-faktor tidak mampu khatam Al-Qur’an

1. Mengalokasikan waktu untuk baca koran, akses internet, nonton tv tetapi untuk tilawah Al-Qur’an hanya waktu yang tersisa.

2. Perasaan menganggap sepele apabila sehari tidak membaca Al-Qur’an, sehingga berdampak tidak ada keinginan untuk segera kembali kepada Al-Qur’an.

3. Lemahnya pemahaman mengenai keutamaan membaca Al-Qur’an sehingga tidak termotivasi untuk mujahadah dalam istiqomah membaca Al-Qur’an.

4. Tidak memiliki waktu wajib bersama Al-Qur’an dan tidak terbiasa membaca Al-Qur’an sesempatnya, sehingga ketika merasa tidak sempat ditinggalkannyalah Al-Qur’an.

5. Lemahnya keinginan untuk memiliki kemampuan ibadah ini, sehingga tidak pernah memohon kepada Allah agar dimudahkan tilawah Al-Qur’an setiap hari. Materi do’a hanya berputar-putar pada kebutuhan keduniaan saja.

6. Terbawa oleh lingkungan di sekelilingnya yang tidak memiliki perhatian terhadap ibadah Al-Qur’an ini. Rasulullah bersabda, “Kualitas dien seseorang sangat tergantung pada teman akrabnya.”

7. Tidak tertarik dengan majlis-majlis yang menghidupkan Al-Qur’an. Padahal menghidupkan majelis-majelis Al-Qur’an adalah cara yang direkomendasikan Rasulullah Saw agar orang beriman memiliki gairah berinteraksi dengan Al-Qur’an.

Kiat mujahadah dalam tilawah satu juz

1. Berusahalah melancarkan tilawah jika anda termasuk orang yang belum lancar bertilawah, karena ukuran normal tilawah satu juz adalah 30 – 40 menit. Kita dapat membangun kemauan untuk 40 menit bersama Allah, sementara kita sudah terbiasa 40 menit atau lebih bersama televisi, ngobrol dengan teman dan akses internet.

2. Aturlah dalam satu halaqah, kesepakatan bersama menciptakan komitmen ibadah satu juz ini. Misalnya, bagi anggota halaqah yang selama sepekan kurang dari tujuh juz, maka saat bubar halaqah ia tidak boleh pulang kecuali telah menyelesaikan sisa juz yang belum terbaca.

3. Lakukanlah qadha tilawah setiap kali program ini tidak berjalan. Misalnya, carilah tempat-tempat yang kondusif untuk konsentrasi bertilawah. Misalnya di masjid atau tempat yang bagi diri kita asing. Kondisi ini akan menjadikan kita lebih sejenak untuk hidup dengan diri sendiri membangun tarbiyyah qur’aniyyah di dalam diri kita.

4. Sering-seringlah mengadukan keinginan untuk dapat bertilawah satu juz sehari ini kepada Allah yang memiliki Al-Qur’an ini. Pengaduan kita kepada Allah yang sering, insya Allah menunjukkan kesungguhan kita dalam melaksanakan ibadah ini. Disinilah akan datang pertolongan Allah yang akan memudahkan pelaksanaan ibadah ini.

5. Perbanyaklah amal saleh, karena setiap amal saleh akan melahirkan energi baru untuk amal saleh berikutnya. Sebagaimana satu maksiat akan menghasilkan maksiat yang lain jika kita tidak segera bertaubat kepada Allah.

Kesibukan dan alokasi waktu membaca

Diantara kendala utama yang sering dijadikan alasan tidak mampu mengkhatamkan Al-Qur’an adalah alasan sibuk. Beberapa kegagalan utama biasanya karena tidak adanya kedisiplinan dalam membaca. Bagimanapun juga, alokasi waktu untuk membaca Al-Qur’an harus direncanakan dalam keseharian kita. Beberapa cara agar kita dapat disiplin dalam mengalokasikan waktu:

1. Melatih diri dengan bertahap untuk misalnya dapat tilawah satu juz dalam satu hari. Caranya, misalnya untuk sekali membaca (tanpa berhenti) ditargetkan setengah juz, baik pada waktu pagi ataupun petang hari. Jika sudah dapat memenuhi target, diupayakan ditingkatkan lagi menjadi satu juz untuk sekali membaca.

2. Mengkhususkan waktu tertentu untuk membaca Al-Qur’an yang tidak dapat diganggu gugat  (kecuali jika terdapat sebuah urusan yang teramat sangat penting). Hal ini dapat membantu kita untuk senantiasa komitmen membacanya setiap hari. Waktu yang terbaik adalah pada malam hari dan ba’da subuh.

3. Menikmati bacaan yang sedang dilantunkan oleh lisan kita. Lebih baik lagi jika kita memiliki lagu tersendiri yang stabil, yang meringankan lisan kita untuk melantunkannya. Kondisi seperti ini membantu menghilangkan kejenuhan ketika membacanya.

4. Memberikan iqab (hukuman) secara pribadi, jika tidak dapat memenuhi target membaca Al-Qur’an. Misalnya dengan kewajiban infaq, menghafal surat tertentu, dan lain sebagainya, yang disesuaikan dengan kondisi pribadi kita.

5. Memberikan motivasi dalam lingkungan keluarga jika ada salah seorang anggota keluarganya yang mengkhatamkan Al-Qur’an, dengan bertasyakuran atau dengan memberikan ucapan selamat dan hadiah.

Ya Allah, rahmatilah kami dengan Al-Qur’an, jadikanlah ia sebagai pemimpin, cahaya,petunjuk dan rahmat bagi kami.

Ya Allah, ingatkanlah apa yg kami lupa dari padanya, berikanlah kami ilmu apa yg belum kami ketahui mengenainya, anugerahkanlah kepada kami untuk membacanya di tengah malam dan penghujung siang, jadikanlah ia sebagai hujjah bagi kami wahai Tuhan sekalian alam. Aamiin..

Minggu, 01 Mei 2011

Minggu, 01 Mei 2011

Bermanfaat Untuk Orang Lain



“أحب الناس إلى الله  أنفعهم للناس”
“Manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat”

Kita melihat banyak sekali kelebihan dan daya yang terpendam di dalam jiwa seseorang dan kita merasakan sumber-sumber kebaikan yang tersimpan dalam diri pemiliknya. Akan tetapi hal itu tidak menular kepada orang lain, tidak memberikan manfaat dan tidak pula menyumbangkan faedah. Bagaimana gambaran yang menyakitkan ketika engkau melihat seorang faqih (ahli fikih) berteman orang jahil yang tidak mengambil faedah apapun dari fikihnya, seorang qari (ahli baca al-Qur`an) yang ditemani orang yang ummi (tidak boleh baca tulis) yang tidak berguna baginya keindahan bacaannya, dan seorang ‘abid (ahli ibadah) yang berada di samping seorang yang fasik yang tidak menular sedikitpun dari keshalehannya. Dakwah itu sendiri merupakan manfaat yang bersifat umum, maka ketika Abu Dzarr  masuk Islam, pembicaraan Rasulullah SAW bersamanya adalah sabda beliau kepadanya:
فَهَلْ أَنْتَ مُبَلِّغٌ عَنِّي قَوْمَكَ, لَعَلَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يَنْفَعَهُمْ بِكَ وَيُأْجُرَكَ فِيْهِمْ
Apakah engkau bisa menyampaikan kepada kaum engkau tentang dakwahku, semoga Allah memberi manfaat kepada mereka dengan (dakwah) engkau, dan memberi pahala kepadamu pada mereka.”[1]
Tarbiyah pertama pembicaraan setelah beliau masuk Islam adalah tarbiyah berdakwah dan berusaha menyalurkan manfaatnya kepada orang lain.
Bapa saudara Jabir bin Abdullah meruqyah dari sengatan kalajengking, maka ia berkata,’Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau melarang dari ruqyah dan sesungguhnya aku meruqyah dari sengatan kalajengking.’ Seolah-olah dia minta izin dalam hal itu. Maka Rasulullah SAW bersabda:
مَنِ اسْتَطَاعَ أَنْ يَنْفَعَ أَخَاهُ فَلْيَفْعَلْ
Barangsiapa yang boleh memberi manfaat kepada saudaranya, maka hendaklah ia melakukannya.’ [2]
Dan terkadang engkau menemukan sebagian orang yang enggan melakukan sesuatu  yang tidak membahayakannya, padahal berguna bagi orang lain, karena hanya mengurus kepentingan pribadinya. Ini bukanlah sifat seorang muslim. Karena alasan itulah, Umar bin Kaththab ra mencela Muhammad bin Maslamah ra ketika ia menghalangi adh-Dhahhak ra bin Khalifah menggali saluran air yang mengalir ke tanahnya yang melalui tanah Muhammad bin Maslamah t, maka Umar  berkata: ‘Kenapa engkau menghalangi sesuatu yang berguna untuk saudaramu, dan ia menjadi manfaat untukmu, engkau menyiram dengannya yang pertama dan terakhir, dan ia tidak membahayakanmu…demi Allah, ia pasti melaluinya sekalipun di atas perutmu.’[3]
Seorang muslim pada dasarnya selalu berusaha memberikan bantuan kepada yang memerlukannya, memberi nasehat kepada yang tidak mengetahuinya, memberi manfaat kepada yang berhak menerimanya berdasarkan motivasi dan keinginan dari dirinya. Rasul kita Muhammad SAW mengatakan kepada bapa saudaranya Abbas bin Abdul Muththalib, ’Wahai pakcikku, bukankah aku mencintaimu? Bukankah aku memberikan manfaat kepadamu? Bukankah aku menyambung silaturrahim kepadamu?[4] Dan di antara wasiat Rasulullah saw kepada Abu Barzah  ketika ia berkata kepada beliau: Wahai Rasululah, ajarkanlah kepadaku sesuatu yang dengannya Allah memberi manfaat kepadaku.’ Beliau bersabda:
اُنْظُرْ ماَيُؤْذِي النَّاسَ فَاعْتَزِلْهُمْ عَنْ طَرِيْقِهِمْ
Lihatlah sesuatu yang menyakiti manusia, maka singkirkanlah dari jalan mereka.’[5]
Bantuan seperti ini menambah sifat tawadhu’ dan menanamkan makna-makna kebaikan di dalam jiwa seorang da’i, serta menjadikan masyarakat di sekitarnya melihat semangat bekerja padanya dalam segala hal yang memberi manfaat atau menolak bahaya dari mereka.
Dan apabila seorang mukmin mengingat nikmat Allah kepadanya dengan memberi hidayah, merasakan manisnya iman dan kenikmatan taat, maka ia tidak akan kedekut dengan kata-kata yang baik (memberi nasehat dan dakwah), untuk menyelamatkan manusia yang masih belum merasakan seperti yang telah dia rasakan dan terhijab dari apa yang telah dia kenal. Karena itulah, Nabi SAW memberi perumpamaan dengan bumi yang subur, yang menerima hujan lalu menumbuhkan tanaman, maka beliau bersabda:
وَذلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقُهَ فِى دِيْنِ اللهِ عز وجل وَنَفَعَهُ اللهُ عز وجل بِمَا بَعَثَنِي اللهُ بِهِ وَنَفَعَ بِهِ فَعَلِمَ وَعَلَّمَ…
Maka itulah perumpamaan orang paham terhadap agama Allah, dan Allah memberi manfaat kepadanya dengan ajaran yang Dia I mengutusku dengannya, mengambil manfaat dengannya, mengetahui dan mengajarkan (kepada orang lain)…”[6]

Seorang dai yang bersemangat adalah bumi subur yang menyerap kebaikan dan menyumbangkannya.
Dan Rasulullah tidak membiarkan kesempatan duduknya seorang anak laki-laki di belakangnya –seperti Ibnu Abbad  tanpa memberikan manfaat kepadanya yang merupakan tarbiyah baginya dan mengisi waktu perjalanan, beliau bersabda kepadanya:
أَلاَ أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ يَنْفَعُكَ اللهُ بِهِنَّ …احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ…
Wahai anakku, aku mengajarkan kepadamu beberapa kalimat (pesan) yang Allah I memberi manfaat kepadamu dengannya: Jagalah Allah I niscaya Dia I menjagamu…”[7]
Para sahabat juga mengikuti akhlak yang mulia ini, Abu Hurairah berkata kepada Anas bin Hakim, ‘Wahai anak muda, mahukah engkau kuceritakan kepadamu satu hadits, semoga Allah memberi manfaat kepadamu dengannya?…sesungguhnya yang pertama-tama manusia dihisab pada hari kiamat dari amal perbuatan mereka adalah shalat…”[8]
Memberikan manfaat kepada kaum kerabat lebih wajib dan lebih banyak pahalanya. Abu Qilabah berkata: ‘Laki-laki manakah yang lebih besar pahalanya daripada seseorang yang memberi nafkah keluarganya yang kecil, membuat mereka bersikap ‘iffah atau Allah memberi manfaat kepada mereka dengannya, Allah menolong mereka dengan (perantaraan)nya dan Dia mencukupkan mereka.”[9]. Perhatian kepada kawan dan kerabat seperti ini menarik hati mereka dan menyambung tali silaturrahim, simbol keakraban, tanda cinta, bukti kasih sayang, terutama saat adanya anak-anak kecil dalam keluarga mereka, yang kehilangan perhatian, kasih sayang dan kebutuhan manusia yang terpenting.
Sesungguhnya pintu-pintu manfaat sangat banyak, Rasulullah SAW menggabungkannya dengan sabdanya:
عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ صَدَقَةٌ
“Setiap muslim harus bersedekah…”

Dan beliau SAW membuat beberapa contoh menurut kadar kemampuan seseorang:
فَيَعْمَلُ بِيَدَيْهِ فَيَنْفَعُ نَفْسَهُ وَيَتَصَدَّقُ…فَيُعِيْنُ ذَا الْحَاجَةِ الْمَلْهُوْفِ
Maka ia bekerja dengan kedua belah tangannya, memberi manfaat kepada dirinya dan bersedekah…menolong orang yang sangat memerlukan…”
dan jika seorang mukmin tidak melakukan sedikitpun dari hal itu:
فَلْيُمْسِكْ عَنِ الشَّرِّ فَإِنَّهُ لَهُ صَدَقَةٌ
‘Maka hendaklah ia menahan diri dari berbuat kejahatan, maka hal itu menjadi sedekah baginya.”[10]

Ini adalah tingkatan memberi manfaat yang terendah, yang tidak pantas bagi seorang muslim lebih rendah darinya dan tidak wajar seorang da’i berada pada tingkatan itu.
Dan jihad adalah tingkatan memberi manfaat yang tertinggi dan ‘uzlah adalah yang paling rendah: seorang arab badawi bertanya: ‘Wahai Rasulullah, manusia apakah yang terbaik? Beliau menjawab:
رَجُلٌ جَاهَدَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ وَرَجُلٌ فِى شِعْبٍ مِنَ الشِّعَابِ يَعْبُدُ رَبَّهُ وَيَدَعُ النَّاسَ مِنْ شَرِّهِ
Seseorang yang berjihad dengan jiwa dan hartanya dan seseorang yang tinggal di salah satu lembah, menyembah Rabb-nya, dan meninggalkan manusia dari kejahatannya.”[11]
Dan orang yang berjihad, ia memberikan manfaat kepada manusia dengan pengorbanan jiwa dan hartanya, untuk menjaga mereka dan menakuti musuh mereka. Ini adalah kebaikan terbesar, dan manusia berbeza-beza dalam kebaikan di antara kedudukan pejuang (mujahid) dan orang yang ber’uzlah, yang menahan dirinya dari berbuat jahat kepada orang lain.
Di antara gambaran amaliyah untuk menciptakan manfaat bahwa engkau tidak membiarkan tanah yang engkau miliki menganggur, tanpa diurus atau ditanam, padahal engkau mempunyai saudara yang menganggur, yang mampu mengurus tanah itu dan mengambil manfaat dengannya. Dalam hal itu, Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ كَانَ لَهُ أَرْضٌ فَلْيَزْرَعْهَا فَإِنْ لَمْ يَزْرَعْهَا فَلْيُزْرِعْهَا أَخَاهُ
Barangsiapa yang mempunyai tanah, hendaklah ia menanaminya. Apabila ia tidak dapat menanaminya, maka hendaklah ia meminta saudaranya untuk menanaminya.”[12]
Sangat banyak di kalangan kaum muslim yang mempunyai kemampun yang menganggur, kekayaan yang terpendam, dan energi yang terbuang percuma, dan kita tidak berfikir untuk memanfaatkannya, yang manfaatnya kembali kepada kaum muslimin. Apakah engkau memberikan sumbangan dengan ilmu pengetahuanmu, bersedekah dengan keringatmu, membantu dengan usahamu, agar engkau selalu termasuk dari orang yang dijadikan Allah  sebagai kunci kebaikan, penutup keburukan, dan saat itulah kabar gembira untukmu adalah surga.
Dan Nabi SAW menjadikan seorang mukmin sebagai perumpamaan selalu memberi manfaat  dengan pohon kurma  karena selalu hijau dan boleh memberikan manfaat dengan semua yang ada padanya, beliau bersabda:
إِنِّي َلأَعْلَمُ شَجَرَةً يُنْتَفَعُ بِهَا مِثْلُ الْمُؤْمِنِ
Sesungguhnya aku mengetahui pohon yang diambil manfaat dengannya seperti seorang mukmin.’[13]
Dan seorang mukmin berusaha memberikan manfaat untuk manusia karena Allah , mengharap ridha-Nya, dan tidak dikuasai oleh perasaan peribadi atau posisi yang berbeza. Rabb  mencela Abu Bakr  saat ia bersumpah tidak akan memberi nafkah kepada Misthah bin Utsatsah karena ikut serta dalam peristiwa ifki (berita bohong). Maka tatkala turun firman Allah :
وَلاَيَأْتَلِ أُولُوا الْفَضْلِ مِنكُمْ وَالسَّعَةِ أَن يُؤْتُوا أُوْلِى الْقُرْبَى وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللهِ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلاَتُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ اللهُ لَكُمْ وَاللهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka mema’afkan dan berlapang dada.Apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu ?Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. an-Nur:22)
Abu Bakar  berkata: bahkan, demi Allah, sesungguhnya kami ingin agar Dia  mengampuni kami. dan iapun memberikan manfaat kepada Misthah.
Apakah engkau ingin agar Allah mengampunimu, maka marilah terus menambah dalam berdakwah, memberi nasehat, faedah dan manfaat, memanfaatkan waktu dan kemampuan… maka sesungguhnya ia seperti yang disabdakan oleh Nabi SAW:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain.”[14]
Kesimpulan:
1.      Apabila seorang mukmin tidak memberikan manfaat, berarti kebaikannya tidak menjalar kepada orang lain.
2.      Barangsiapa yang boleh memberi manfaat kepada saudaranya maka hendaklah ia melakukannya.
3.      Segera memberikan manfaat sebelum diminta.
4.      Memanfaatkan semua kesempatan untuk menyampaikan kebaikan (berdakwah dan menyampaikan mesej Islam).
5.      Manfaat yang paling wajib adalah untuk kaum kerabat.
6.      Barangsiapa yang tidak mampu memberikan manfaat, maka hendaklah ia bersungguh-sungguh untuk tidak membahayakan orang lain.
7.      Manfaat yang paling tinggi adalah jihad dan yang terendah adalah ‘uzlah.
8.      Perlu tingkatkan lagi usaha berdakwah, dengan menyebarkan kata-kata nasehat dan peringatan.
9.      Gunakan segala kemampuan yang Allah kurniakan untuk Agama Allah dan dalam membantu perkembangan dakwah.
10.   Manfaat menjadi dengan memberikan dukungan dengan harta dan kekuasaan (infaqkan untuk Islam).
11.   Di antara karekteristik seorang mukmin adalah:  kebaikannya saja yang selalu terus dirasakan dan banyak manfaatnya.
12. Yang bermanfaat adalah manusia yang terbaik.

Telah diedit semula dari sumber asal: Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah
Sumber Rujukan:
[1] Shahih al-Jami’, no. 176 (Hasan)
[2] Shahih Muslim, kitab fadhail, bab ke-28, no. 132/2473.
[3] Muwaththa’ Imam Malik, kitab Aqdiyah, bab ke-26, hadits ke 33.
[4]  Shahih Sunan Ibnu Majah , kitab shalat,  bab ke-190 no. 1138.
[5] Musnad Imam Ahmad 4/423.
[6] Shahih al-Bukhari, kitab ilmu, bab ke-20, no. 79 (Fath al-Bari 1/175).
[7] Musnad Imam Ahmad 1/307 dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 7907.
[8] Musnad Imam Ahmad 2/425, dan lafazh  yang marfu’ dalam shahih Sunan Abu Daud no. 770/864 (Shahih).
[9] Shahih Muslim, kitab zakat, bab ke-12, hadits 38/994 (Syarh an-Nawawi 4/85).
[10] Shahih al-Bukhari, kitab Adab, bab ke-33, no. 6022 (Fath al-Bari 10/447)
[11] Shahih al-Bukhari, kitab riqaq, bab ke-34, hadits no. 6494 (Fath al-Bari 11/330).
[12] Shahih Muslim, kitab jual beli, bab ke-17, hadits no. 88 (Syarh an-Nawawi 5/454)
[13] Musnad Ahmad 2/115, seperti dalam riwayat  al-Bukhari dalam kitab ilmu, bab ke-5, no 62 (Fath 1/147)
[14] Shahih al-Jami’ no 3289 (Hasan).

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates